Minggu, 01 April 2012

9 Makalah Aqidah-Akhlak Tercela


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah                                                 
Manusia perlu memperhatikan perangainya dari waktu ke waktu yang dalam perjalanan itu kehidupan manusia mengalami banyak perubahan. Kemajuan perdaban menimbulkan pergeseran banyak perilaku yang mempengaruhi perangai perorangan maupun kelompok.
Iman Ibnul Qayyim berkata, "Akhlak yang tercela adalah bermula dari kesombongan dan rendah diri. Dari kesombongan muncul sikap bangga,
sok tinggi, hebat, ujub, hasad, keras kepala, zhalim, gila pangkat, kedudukan dan jabatan, senang dipuji padahal tidak berbuat sesuatu dan sebagainya.
Ibnul Qayyim juga mengatakan bahwa sebagaimana akhlak terpuji, akhlak tercela juga memiliki akar di mana satuan-satuannya dapat dikelompokkan. Jika akar perilaku manusia ada dalam pikiran dan jiwanya, maka akar penyakit akhlak juga akan selalu ada disana. Mengenai hal itu, Ibnul Qayyim menyebutkan dua akar penyakit akhlak, yaitu Pertama, penyakit syubhat. Penyakit ini menimpa wilayah akal manusia, dimana kebenaran tidak menjadi jelas (samar) dan bercampur dengan kebatilan (talbis). Penyakit ini menghilangkan kemampuan dasar manusia memahami secara baik dan memilih secara tepat. Kedua, penyakit syahwat. Penyakit ini menimpa wilayah hati dan insting manusia, dimana dorongan kekuatan kejahatan dalam hatinya mengalahkan dorongan kekuatan kebaikan. Penyakit ini menghilangkan kemampuan dasar manusia untuk mengendalikan diri dan bertekad secara kuat.
Begitu banyaknya hal yang dapat menyebabkan kemerosotan akhlak yang dapat menimbulkan akhlak atau perilaku tercela.

B. Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang di atas, penulis mengambil suatu rumusan masalah, yaitu:
a) Apakah definisi akhlak tercela ?
b) Apa saja sebab kemerosotan akhlak ?
c) Apa saja contoh-contoh akhlak yang tergolong dengan akhlak tercela ?
d) Apa saja bahaya yang ditimbulkan oleh akhlak tercela ?
C. Manfaat
Siswa dapat memahami macam-macam akhlak tercela.Dapat menghindarkan dirinya, keluarga ataupun lingkungan dari perilaku tercela karena membawa dampak buruk bagi semua aspek dan komponen kehidupan.
D. Tujuan penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini antara lain:
1.      Sebagai bentuk penyelesaian tugas mata pelajaran Akidah Akhlak kelas X.
2.      Untuk menjelaskan macam-macam akhlak tercela dan cara pencegahannya dalam kehidupan sehari-hari.






BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Akhlaq Tercela
Definisi akhlak menurut Imam AI-Gozali adalah: Ungkapan tentang sikap jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan mudah dan tidak memerlukan pertimbangan atau pikiran terlebih dahulu.
Kata akhlak berasal dari bahasa Arab yaitu khalaqa-yahluqu, artinya menciptakan, dari akar kata ini pula ada kata makhluk (yang diciptakan) dan kata khalik (pencipta), maka akhlak berarti segala sikap dan tingkah laku manusia yang datang dari pencipta (Allah swt). Sedangkan moral berasal dari maros (bahasa latin) yang berarti adat kebiasaan, disinilah terlihat berbeda antara moral dengan akhlak, moral berbentuk adat kebiasaan ciptaan manusia, sedangkan akhlak berbentuk aturan yang mutlak dan pasti yang datang dari Allah swt. Kenyataannya setiap orang yang bermoral belum tentu berakhlak, akan tetapi orang yang berakhlak sudah pasti bermoral. Dan Rasulullah saw di utus untuk menyempurnakan akhlak manusia sebagaimana sabdanya dalam hadist dari Abu Khurairah, “Sesungguhnya aku diutus Allah semata-mata untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak manusia.”
Dengan demikian, akhlak (perilaku) tercela adalah semua sikap dan perbuatan yang dilarang oleh Allah, karena akan mendatangkan kerugian baik bagi pelakunya ataupun orang lain.
B. Sebab-sebab kemerosotan akhlak
Akhlak, memiliki sebab-sebab yang dapat menjadikannya tinggi dan mulia, dan sebaliknya juga mempunyai sebab-sebab yang dapat menjadikannya merosot dan jatuh ke dalam keterpurukan.
Di antaranya yaitu :
a. Lemah Iman
Lemahnya iman merupakan petanda dari kerendahan dan rusaknya moral, ini disebabkan kerana iman merupakan kekuatan (untuk membina akhlak) dalam kehidupan seseorang.
b. Tabiat/ watak asli
Ada sebagian orang yang memang memiliki tabi'at/watak asli yang buruk, rendah, suka iri dan dengki terhadap orang lain. Tabi'at ini lebih mendominasi pada diri orang tersebut, sehingga terkadang pendidikan yang diperolehnya sama sekali tidak mempengaruhi perilakunya.
c. Lingkungan
Lingkungan memberikan dampak yang sangat kuat bagi perilaku seseorang, karena seperti dikatakan pepatah bahwa seseorang adalah anak lingkungannya. Kalau dia hidup dan terdidik dalam lingkungan yang tidak mengenal makna adab dan akhlak serta tidak tahu tujuan hidup yang mulia, maka akhlaknya akan rusak sebagai mana hasil didikan lingkungannya.
C. Contoh-contoh Akhlaq Tercela
Akhlaq tercela dapat menciptakan perilaku tercela. Perilaku tercela dapat di golongkan menjadi dua macam, yaitu perilaku yang berdampak buruk bagi dirinya sendiri dan perilaku tercela yang berdampak buruk bagi orang lain. Begitu banyaknya macam-macam akhlak tercela yang terdapat dalam hati manusia. Akan tetapi, penulis hanya mengurai beberapa contoh akhlak tercela, yaitu ujub/berbangga diri, takabur, putus asa, berlebih-lebihan, dusta dan iri/dengki.
a. Ujub
Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah meringkas defenisi ujub sebagai berikut: "Yaitu perasaan takjub terhadap diri sendiri hingga seolah-olah dirinyalah yang paling utama daripada yang lain. Padahal boleh jadi ia tidak dapat beramal sebagus amal saudaranya itu dan boleh jadi saudaranya itu lebih wara' dari perkara haram dan lebih suci jiwanya ketimbang dirinya!". Orang yang demikian itu, beranggapan bahwa segala kesuksesan yang diraihnya, seperti harta yang melimpah, jabatan yang tinggi, kepandangan yang tak tertandingi semata-mata karena hasil usaha serta kehebatan dirinya. Semua itu ia pikir, ia raih tanpa bantuan dari siapapun, termasuk Allah SWT. orang yang bersikap/berperilaku ‘ujub’ biasanya selalu merasa dirinya benar, tidak pernah salah atau keliru, karenanya tidak bisa menerima kritik orang lain.
Ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang ujub antar lain Surat At-Taubah:55 yang artinya:
Artinya: “Dan janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu (menjadikan kamu bersikap ujub). Sesungguhnya Allah menghendaki akan mengazab mereka di dunia dengan harta dan anak-anak itu dan agar melayang nyawa mereka, dalam keadaan kafir”. (QS. Taubah: 55)
Abu Wahb al-Marwazi berkata, Aku bertanya kepada Ibnul Mubarak, Apakah kibr (sombong) itu?،¨ Dia menjawab, Jika engkau merendahkan orang lain.،¨ Lalu aku bertanya tentang ujub, maka dia menjawab jika engkau memandang bahwa dirimu memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain, aku tidak tahu sesuatu yang lebih buruk bagi orang yang shalat daripada ujub.
Berikut ini adalah  hal-hal yang Dipakai 'Ujub dan Terapinya:
1.      'Ujub dengan fisiknya
Pengobatan jenis 'ujub ini adalah dengan tafakkur (memikirkan)  tentang berbagai kotoran batinnya, tentang mula penciptaan dan akhir kesudahannya, tentang bagaimana wajah yang cantik dan tubuh yang gemulai itu akan terkoyak-koyak oleh tanah dan membusuk di kubur hingga menjijikkan.


2.      'Ujub dengan kedigdayaan dan kekuatan
'Ujub dengan kekuatan mengakibatkan kekalahan dalam peperangan, pencampakan diri ke dalam kebinasaan dan terburu-buru. Terapinya ialah dengan mengetahui bahwa meriang sehari saja bisa melemahkan kekuatannya dan bahwa apabila ia ujub dengan kekuatannya bisa jadi Allah akan mencabutnya dengan sebab pelanggaran paling ringan yang dilakukannya.
3.      'Ujub dengan intelektualitas
Terapinya ialah dengan bersyukur kepada Allah atas karunia intelektualitas yang telah diberikan-Nya, dan merenungkan bahwa dengan penyakit paling ringan yang menimpa otaknya sudah bisa membuatnya berbicara melantur dan gila sehingga menjadi bahan tertawaan orang. Ia tidak aman dari ancaman kehilangan akal jika ia ujub dengan intelektualitas dan tidak mensyukurinya. Hendakalah ia menyadari keterbatasan akal dan ilmunya. Hendaklah pula ia mengetahui bahwa ia tidak diberi ilmu pengetahuan kecuali sedikit, sekalipun ilmu pengetahuannya luas.
4.       'Ujub dengan nasab terhormat
Terapi penyakit ini adalah mengatahui bahwa jika ia menyalahi perbuatan dan akhlak nenek moyangnya dan mengira bahwa ia akan disusulkan dengan mereka maka sesungguhnya ia bodoh, tetapi jika meneladani nenek moyangnya maka hendaknya mengetahui bahwa nenek moyangnya tidak pernah ujub bahkan mereka senantiasa khawatir terhadap dirinya. Mereka mulia karena ketaatan, ilmu, dan sifat-sifat terpuji bukan dengan nasab.
5.      Ujub dengan nasab para penguasa yang zhalim dan pendukung meraka.
Terapinya adalah dengan merenungkan tentang berbagai kehinaan mereka dan tindakan-tindakan kezhaliman mereka terhadap para hamba Allah, kerusakan yang meraka lakukan terhadap agama Allah, dan bahwa mereka adalah orang yang dimurkai Allah.
6.      'Ujub dengan banyaknya jumlah anak, pelayan, budak, keluarga, kerabat.
Terapinya adalah merenungkan tentang kelemahannya dan kelemahan mereka, bahwa mereka semua adalah hamba yang lemah, tidak kuasa memberi manfaat dan bahaya kepada diri mereka sendiri.

7.       'Ujub dengan harta
Terapinya adalah merenungkan tentang keburukan-keburukan harta kekayaan, hak-haknya yang banyak, dan para pendengkinya yang rakus. Kemudian memperhatikan keutamaan orang-orang fakir dan bahwa mereka akan masuk surga terlebih dahulu pada hari kiamat.
8.       'Ujub dengan pendapat yang salah*
Terapi ujub ini lebih berat ketimbang terapi 'ujub yang lainnya, karena pemilik pendapat yang salah tidak mengetahui kesalahannya, seandainya tahu pasti ditinggalkannya. Tidak akan mengobati penyakit orang yang tidak tahu bahwa dirinya sakit. Terapinya secara umum adalah hendaknya ia selalu menuduh pendapatnya sendiri dan tidak terpedaya, kecuali jika secara pasti didukung oleh Al-Qur'an atau sunnah atau dalil akal yang shahih yang memenuhi berbagai persyaratannya.

b. Takabbur
Takabbur adalah sikap perilaku membesarkan diri dan tidak menerima kebenaran serta memandang kecil atau rendah terhadap orang lain. Dalam bahasa Indonesia perkataan takabur sama dengan sombong. Sikap/perilaku takabur termasuk akhlak tercela dan wajib dijauhi oleh setiap muslim muslimah. Sebagaimana Allah berfirman:
“Tidak diragukan lagi, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang takabbur (sombong). (QS. An-Nahl:23)
Sifat sombong dibagi menjadi kesombongan batin dan kesombongan zhahir. Kesombongan batin adalah kesombongan yang terdapat dalam jiwa (hati), sedangkan kesombongan zahir adalah kesombongan yang dilakukan anggota zahir, karena tingkah laku seseorang merupakan akibat dari apa yang terjadi di hatinya. Kesombongan batin akan memaksa anggota tubuh untuk melakukan hal-hal yang bersifat sombong, maka apabila hanya menyimpan di dalam hati tanpa ada tindakan disebut dengan kibr (sifat sombong).
Kesombongan berbeda dengan ujub. Karena ujub tidak memerlukan orang lain yang dijadikan bandingannya. Seperti seseorang yang ujub dengan ibadah shalat tahajudnya, maka ia tidak perlu melihat ibadah tahajud orang lain, cukup baginya mengatakan, “Saya seorang ahli ibadah karena selalu melakukan ibadah tajajud.” Maka ia telah melakukan ujub. Sedangkan kesombongan, orang yang sombong memerlukan orang lain untuk membandingkan dengannya. Semakin tinggi kesombongannya, maka ia tidak ingin ada orang yang menandinginya dan ingin selalu berada di atas yang lain.
Orang yang memiliki sifat sombong tidak menyadari bahaya yang dapat di timbulkan dari sifat ini. Rasulullah bersabda :
“Tidak akan masuk surga (memperoleh kebahagiaan) orang yang di dalam hatinya ada kesombongan walaupun sebesar semut”. (HR. Muslim)
Terapi sifat sombong dan cara memperoleh sifat tawadhu’
Terapi sifat sombong pertama adalah menghilangkan akar penyakit ini. Terapi pengobatannya adalah degnan ilmu dan amal. Karena penyakit ini tidak mungkin dapat disembuhkan kecuali dengan kedua hal itu. Pengobatan melalui ilmu adalah dengan mengetahui siapa dirinya dan siapa Penciptanya. Apabila seseorang telah mengetahui dan menyadari dengan benar siapa hakikat dirinya, maka dia akan merasa dirinya hina dan penuh kelemahan. Selanjutnya, akan menjadikannya sebagai seorang yang tawadhu’. Sedangkan pengobatan melalui amal adalah dengan membiasakan merendah diri (tawadhu’) terhadap orang lain dan mengikuti akhlak-akhlak orang yang memiliki sifat tawadhu’.
c. Putus asa
Semua umat manusia pasti merasakan putus asa. Dan umat itu pastilah menjadi lemah dan lenyap kekuatannya karena putus asa merupakan penyakit atau racun yang benar-banar membahayakan bagi setiap pribadi manusia.
Bukan sembarangan jika Allah SWT. dalam salah satu firman-Nya, mempersamakan antara sifat putus asa itu dengan sifat kekafiran. Sebabnya tiada lain hanyalah karena bencana yang ditimbulkan oleh kedua macam sifat itu sama-sama besar dan dahsyat. Firman Allah dalam Al-Qur’an, yang artinya: “janganlah kamu semua berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tidak tidak ada yang suka berputus asa dari rahmat Allah, melainkan golongan orang-orang kafir”. (QS. Yusuf:87)
Putus asa memiliki kaitan dengan ujub. Ibnu Mas'ud ra. berkata: "Kebinasaan ada dalam dua hal, putus asa dan ujub”.
Ibnu Mas'ud ra menyebutkan kedua hal tersebut karena kabahagiaan tidak bisa dicapai kecuali dengan usaha, pencarian, keseriusan, dan perjuangan, sedangkan orang yang putus asa tidak mau berusaha dan tidak mau pula mencari, sementara orang yang 'ujub beranggapan bahwa ia bisa mencapai kebahagiaan dan menggapai tujuannya sehingga ia tidak mau berusaha, karenaapa yang sudah ada tidak perlu dicari dan apa yang mustahil juga tidak perlu dicari.
d. Berlebih-lebihan
Berlebih-lebihan adalah melakukan sesuatu di luar batas ukuran yang menimbulkan kemudharatan baik langsung ataupun tidak kepada manusia dan alam sekitarnya. Pada dasarnya sikap berlebih-lebihan akibat dari sikap manusia yang tidak bisa mengendalikan hawa nafsunya. Sekecil apa pun perbuatan manusia berlebih-lebihan akan memberi dampak negatif bagi manusia dan alam sekitarnya seperti kerusakan moral, harta benda dan kerusakan alam.
Sikap berlebih-lebihan sangat dibenci Allah, sebagaimana dalam firmannya :
Artinya: “Dan janganlah kamu berlebih-lebihan, Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan”. (QS. Al-An’am:141).



Allah juga menegaskan dalam ayat lain, yakni:
Artinya: “Dan berilah kepada kerabat-kerabat akan haknya (juga kepada) orang muslim dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah engkau boros. Sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara setan, dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS. Al-Isra’: 26-27).
Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menghindari sikap berlebih-lebihan antara lain sebagai berikut:
a. Senantisa bersyukur kepada Allah SWT.
b. Mengatur anggaran keuangan denga menabung.
c. Senantiasa berhemat dan membelanjakan harta seperlunya.
d. Melakukan sesuatu sesuai ukurannya.
e. Dusta
Dalam Alquran kalau kita perhatikan kalimat al-kadzibu, maka kita temukan dalam bentuk yang berbeda-beda sesuai dengan wazannya, seperti Kaadzibu, Kadzaab, Al-Mukadzibuun, Al-Mukadzibiin, Kadzaaba, Kadzaabat, Makdzuub, Takdziib, Kdazzabuu. Ini semua sesuai dengan ayat dan bentuknya.
Kebohongan atau sifat dusta adalah suatu sifat yang timbul dari sebab beberapa faktor yang ada, antara lain:
-    Lemah jiwa dan mentalnya.
-    Kegoncangan jiwa.
-    Senang dengan perhatian manusia atau pandangan manusia.
-    Suka bergurau atau bercanda yang berlebihan.
-    Rasa dengki dan iri yang ada.
-    Lingkungan yang buruk dan berpengaruh padanya.
Dalam Riyadhus Sholihin, Imam Nawawi membawakan dalil dari Ummu Kultsum, dari Nabi saw. bersabda, "Tidaklah dikatakan Al-Kadzibu orang yang mengishlah antara manusia, dan dia berkata baik pada kedua belah pihak." Hadis Bukhari Muslim. Dalam riwayat Muslim berkata, Ummu kultsum diberi keringanan tentang apa yang diucapkan manusia dalam tiga hal, yaitu dalam perang, ishlah antara manusia, dan ucapan seorang suami pada istrinya, dan istri pada suaminya."
 f. Iri Hati atau Dengki
Syeikh Abu Hamid Al-Ghazali berkata: “Ketahuilah bahwa tidak ada kedengkian (hasad), kecuali terhadap kenikmatan, jika Allah memberi nikmat kepada saudaramu, maka ada dua hal yang ada pada dirimu. Pertama, benci kepada seseorang yang memperoleh nikmat, dan berharap agar nikmat itu lenyap dari padanya.
Keadaan ini disebut dengki. Batasan dengki adalah benci terhadap nikmat, dan ingin melenyapkan dari orang yang mendapat karunia. Kedua, ia sendiri mengharapkan agar mendapat nikmat itu tanpa berusaha melenyapkan nikmat yang dimiliki orang lain.
Sifat pertama di atas adalah haram hukumnya dalam segala hal. Betapa ganasnya penyakit nafsiyah ini menyerang manusia, bisa kita lihat dalam berbagai hadits Rasulullah SAW. Di antaranya :
“Hasad itu memakan kebaikan sebagaimana api yang melalap kayu bakar”. (HR. Abu Daud dari Abu Hurairah, dan Ibnu Majah dari Abbas)
“Janganlah kalian saling mendengki, jangan saling memutuskan hubungan persaudaraan, jangan saling membenci, jangan pula saling membelakangi, dan jadilah kalian hamba Allah sebagai saudara”.(HR. Bukhari Muslim)
Orang yang memiliki sifat dengki juga bisa dilihat jika ia merasa bahagia ketika orang lain mendapatkan suatu bencana atau musibah. Kegembiraan yang demikian itu dinamakan Syamatah, yatu bahagia yang timbulnya sebab mendengar atau melihat adanya kesusahan, kemelaratan, kecelakaan yang menimpa orang yang dianggap saingan atau lawan. Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya :
“Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati. Tapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya”.(HR. Ali Imran:120)
Dengki adalah pangkal dari semua perilaku tercela. Misalnya menggunjing, adu domba, menyebar fitnah. Oleh sebab itu, sifat dengki harus dijauhi karena sifat ini hanya akan membawa manusia terhadap kemelaratan dan rusaknya silaturahim.
Solusi untuk menghindari sifat dengki, di antaranya:
1) Menyadari dan selalu ingat bahwa iri dengki hanya akan menghapus amal baik kita.
2) Menyadari dan senantiasa bersyukur atas semua nikmat yang telah Allah berikan.
3) berikhtiyar dan berdoa
g. Aniaya (Zalim)
            Aniaya dalam bahasa Arab adalah zalim (al-zulumu) artinya tidak adil. Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia aniaya diartikan sebagai perbuatan bengis, seperti penyiksaan, penindasan, memperlakukan orang lain sewenang-wenang, menyiksa, dan menindasnya.
            Definisi zalim menurut Al-Qur’an adalah tidak mau bertobat. Dengan demikian dalam arti yang sangat luas zalim dapat di artikan perilaku yang tidak mau bertobat. Perhatikan petikan firman Allah surah Al-Hujurat/49:11, yang artinya : ‘’Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.’’
            Perbuatan zalim mendapat ancaman dari Allah swt, di antaranya Allah tidak akan memberikan petunjuk seperti QS.Al-Baqarah/2:258, yang artinya :’’Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim.’’
            Syaih Muhammad Al-Utsaimin berpendapat bahwa zalim dapat dibedakan menjadi beberapa macam :
1.     Kezaliman yang paling zalim, yaitu syirik kepada Allah.
2.    Kezaliman manusia terhadap dirinya sendiri dengan cara tidak memberikan hak kepada diri sendiri seperti : Berpuasa yang tidak mau berbuka, salat sepanjang malam, sehingga tidak tidur sama sekali.
3.    Kezaliman seseorang terhadap orang lain, seperti : Melakukan pemukulan, pembunuhan, atau perampasan harta.
Kezaliman yang dilakukan manusia karena ketidakmampuan manusia untuk mengatasi syahwat dan amarahnya. Hal itu dapat diatasi dengan cara meletakkan syahwat dan amarah sebagai tawanan yang harus mengikuti perintah akal dan agama.
h.Diskriminasi
            Kata diskriminasi berasal dari bahasa Belanda ³discriminatie´artinya pemisahan atau perbedaan. Kata diskriminasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III artinya perbedaan perlakuan terhadap sesame warga Negara . Kata diskriminasi berasal dari bahasa Inggris disebut ³discrimination´artinya perbedaan perlakuan . Kata diskriminasi berasal dari bahasa Arab disebut ³tafriq´ dan merupakan sifat tercela yang harus dihapus .
Menurut UURI No.39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia Bab 1 pasa 1 menjelaskan kata diskriminasi adalah setiap pembatasan, pelecehan, atau pengucilan yang langsung atau tidak langsung didasarkan pada perbedaan manusia atas alas an agama ,suku, ras,etnik,kelompok,jenis kelamin, bahasa , keyakinan, politik, yang berakibat pengurangan, penyimopangan atau penghapusan pengakuan, pelaksanaan, penggunaan hak asasi manusiadan kebebasan dalam kehidupan, baik individu atau kolektif dalm bidang politik ekonomi,hukum, social, budaya, dan aspek kehidupan lain.Dari pengertian diatas , islam melarang diskriminasi karena termasuk sifat tercela yang harusdijauhi. Di hadapan Allah semua manusia adalah sama , yang membedakan hanya kualitas ketakwaan kepada-Nya.
            Allah.swt berfirman yang artinya :           
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang  yang paling bertakwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Lagi Maha Mengenal(Q.S. Al-Hujurat:13)
Diskriminasi adalah perbuatan zalim dan tercela karena akan mendatangkan kerugian kepada orang yang diperlakukan diskriminatif.Diskriminasi bisa terdapat dalam kehidupan berkeluarga, bertetangga, bermasyarakat, dan bernegara.
1.Orangtua yang membeda-bedakan perlakuan terhadap anak-anaknya adalah contoh
 perilaku diskriminasi dalam kelusarga .
2.Islam mengajarkan agar dalam berkehidupan bertetangga , antara satu tetangga
dengan tetangga lainnya saling menghormati dan menghargai, tanpa membedakan
suku bangsa, agama, status social, dan sebagainya.
3.Dalam kehidupan bermasyarakat , berbangsa, dan bernegara, perilaku diskriminasi itumisalnya jika pemerintah hanya melindungi golongan tertentu. Padahal pemerintahwajib melindungi seluruh rakyatnya tanpa kecuali.Berdasarkan ras, suku, warna kulit , perlakuan diskriminasi antara lain adalah :
1.Diskriminasi kelamin, yaitu pembedaan sikap dan perlakuan terhadap orang berdasarkan jenis kelamin. Di kota Mekah pada masa jahiliah, kaum perempuan berkedudukan sangat rendah
2. Diskriminasi ras, yaitu pembedaan berdasarkan asal bangsa yang menganggap bahwa ras yang satu lebih hebat daripada ras yang lain.
3.Diskriminasi social, yaitu berdasarkan status sosialnya, seperti kaya dan miskin, bangsawan dan rakyat jelata , atau suatu agama dengan agama lain.
4.Diskriminasi warna kulit (apartheid )yaitu berdasarkan warna kulit . orang yang berkulit putih dianggap lebih terhormat.Berdasarkan ayat Al Qur¶an tersebut, islam menghapuskan tumbuhnya sikap diskriminasi dan menggantinya dengan menyuburkan sifat pengasih dan penyayang. Allah bahkan meletakan sifat tersebut di dalam nama-Nya, yaitu bismillah ar rahman ar rahim, yang artinya Maha Pengasih lagi Maha Penyayang untuk menjadi contoh dan rahmat bagi hamba-Nya.
-
Cara menghindari diskriminasi :
1.Gemar bersilaturahmi
2.Menumbuhkan semangat persatuan dan kesatuan
3.Bersikap toleransi (tasamuh) terhadap sesama umat beragama dan tidak memaksakan keyakinan agama kepada orang lain.
4.Aktif dalam kegiatan yang tujuannya mengahapus diskriminasi.
5.Tidak menimpakan kesalahan kepada orang lain.
6.Tidak menghina, berburuk sangka , bahakn memfitnah orang lain.
7.Selalu beribadah kepada Allah dan tidak menyukutukan-Nya, serta berbuat baik kepasa sesama.
- Ilustrasi penentangan diskriminasi dalam islam :
a. Nabi Ibrahim a.s. menjadikan siti Hajar, seorang budak dari Etiopia yang dianggap hina, sebagai istrinya. Ternyata budak yang dianggap rendah tersebut justru mempunyai kepribadian yang mulia, tidak mudah menyerah ketika ketika menghadapi kesulitan bagaimanapun beratnya, dan bertanggung jawab atas tugas atau kewajibannya , khusu dalam memelihara dan membesarkan putranya yaitu Ismail a.s.
 b.Di zaman Nabi Muhammad saw. Perjuangan menghapuskan dioskriminasi terus dilanjutkan , khusunya budak di Kota Mekah. Budak yang dimaksud bernama Bilalbin rabid, dia hamba Allah yang tangguh dan teguh dalam mempertahakan keyakinan islam. Demikian pula Zaid bin Haris yang telah dimerdekakan oleh Nabi Muhammad saw. dan diangkat sebgai anak asuh beliau hingga dinikahkan dengan Zaenab saudara sepupu Rasulullah saw. dari suku Quraisy.
i.Riya
            Ria berasal dari bahasa arab yang artinya memperlihatkan atau terkenal dengan istilah memamerkan. Dari segi syra, imam alhafidz ibnu hajar dalam kitabnya fathul bari mengatakan bahwa ria adalah ibadah yang dilakukan dengan tujuan atau maksud agar dapat dilihat orang lain sehingga memuja pelakunya.Riya adalah memperlihatkan suatu ibadah dan amalan shaleh kepada orang lain bukan karna allah, tetapi karna suatu yang lain selain allah. Misalnya karena ingin memperoleh kemasyuran dan keuntungan dunia.sedangkan memperdengarkan ucapan ibadah dan amal saleh kepada orang lain. Ria merupakan sifat tecela karena melakukan amal perbuatan tidak untuk mencari ridho allah melainkan untuk mengharap pujian dari orang lain, ria merupakan kemunafikan dan syirik,Rasulullah bersabda:
‘’Sesuatu yang sangat aku takutkan yang akan menimpa kamu ialah syirik kecil. Nabi SAW ditanya tentang apa yang dimaksud dengan syirik kecil maka beliau menjawab yaitu riya.’’
            Jadi hakikat riya adalah seorang hamba yang taat pada allah swt dengan tujuan ingin mendapatkan kedudukan atau pujian manusia.Tanda tanda penyakit hati ini pernah dinyatakan oleh ali bin abi thalib. Kata Rasulullah :’’Orang yang riya itu memliki tiga ciri, yaitu malas beramal ketika sendirian dan giat beramal ketika berada ditengah tengah orang ramai, menambah amaliyahnya ketika dirinya dipuji, dan mengurangi amaliyahnya ketika dirinya dicela.’’
Dilihat dari bentuknya ria ada dua macam yaitu:
1. Riya dalam niat
Riya dalam niat yaitu ketika mengawali pekerjaan, dia mempunyai keinginan untuk  mendapat pujian, sanjungan, penghargaan dari orang lain, bukan karna alloh. Padahal niat itu sangat menentukan nilai dari suatu pekerjaan.Jika pekerjaan yang baik dilakukan dengan niat karna allah maka perbuatan itu mempunyai nilai disisi allah.jika dilakukan karna ingin mendapat sanjungan dan penghargaan dari orang lain maka perbuatan itu tidak akan memperoleh pahala dari allah hanya sanjungan dan itulah yang akan dia peroleh. Nabi muhammad SAW bersabda:’’Sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung niatnya´’.(HR Muslim).Riya yang merkaitan dengan hati paling sulit untuk diketahui karna yang mengetahuinya hanya allah swt semata.


2. Riya dalam perbuatan
Riya dalam perbuatan ini, misalnya ketika megerjakan shalat dan bersedekah. Orang riya ini dalam mengarjakan shalat biasanya dia memperlihatkan kesungguhan, kerajinan dan kekhusuannya jika dia berada di tengah tengah orang atau jamaah. Sehingga orang lain melihat dia berdiri, rukuk, sujud dan sebagainya. Dia shalat dengan tekun tiu mengharapkan perhatian, sanjungan, pujian orang lain agar dia dianggap sebagai orang yag taat dan tekun beribadah. Orang yang riya dalam shalat akan celaka.
Allah berfirman yang artinya :
maka celakalah orang yang shalat yaitu orang-orang yang lalai terhadap
 shalatnya yang berbuat riya dan enggan (memberikan) bantuan.(QS Al-Maun/107:4-7).
Riya yang berhubungan dengan perbuatan ini masih dapat dilihat sekalipun agak samar-samar.
Beberapa ciri orang yang mempunyai sifat riya dalam perbuatan yaitu sebagai berikut:
1. Tidak aka melakukan perbuatan baik seperti bersedekah bila tidak dilihat orang
2. Beribadah hanya sekedar ikut-ikutan
3. Terlihat tekun dan bertambah motivasinya dalam beribadah jika mendapat pujian saja,sebaliknya mudah menyerah jika dicela orang
4. Senantiasa berupaya menampakan segala perbuatan baiknya agar diketahui orang banyak.
Riya bisa terdapat dalam urusan keagamaan dan bisa pula dalam urusan keduniaan.
A.Riya dalam urusan keagamaan , misalnya:
Seseorang melakukan shalat berjamaah dengan maksud bukan ingin memperoleh keridaan Allah SWT, tetapi agar mendapat penilaian dari masyarakat sebagai muslim yang taat.
B.Riya dalam urusan keduniaan, misalnya:
Seseorang memperlihatkan kesungguhan dan kedisiplinannya dalam bekerja kepada atasannya, dengan tidak dilandasi nilai ikhlas karena Allah SWT, karena ia ingin dinilai baik oleh atasannya, lalu pangkatnya atau gajinya dinaikkan.
Sifat riya yang membahayakan terhadap diri sendiri diantaranya adalah:
1. Selalu muncul ketidak puasan terhadap apa yang telah dilakukan.
2. Muncul rasa hampa dan senantiasa gelisa ketika berbuat sesuatu
3. Menyesal melakukan sesuatu ketika orang lain tidak memerhatikannya
4. Jiwa akan terganggu karena keluh kesah yang tiada hentinya
5. Merugikan diri sendiri karena termasuk perbuatan tercela
Cara menghindari sifat riya:
1.Banyak mendatangi dan mendengarkan pengajian atau nasihat yang disampaikan oleh para ulama yang membahas berbagai masalah dalam islam (QS. Al Anfal:2)
2. Bergaul dengan teman yang baik dan saleh , disiplin beribadah dan beramal saleh , serta membiasakan diri berakhlak terpuji.
3.Memelihara diri dengan beramal saleh secara ikhlas dan secara sembunyi-sembunyi karena untuk mencari rida Allah swt.
Begitulah bahaya dari sifat riya bahkan riya itu dapat dikatakan sebagai syirik khafi yang artinya syirik ringan karena mengaitkan niat untuk melakukan sesuatu perbuatan pada sesuatu selain Allah.
D. Bahaya Akhlak Tercela
Adapun bahaya yang ditimbulkan oleh maksiat atau perbuatan dosa itu seperti di sebutkan oleh Ibnu Qoyyim rahimullah, sebagai berikut:
1.      Terhalangnya ilmu agama karena ilmu itu cahaya yang diberikan Allah di dalam hati, dan maksiat mematikan itu.
2.      Terhalangnya rezeki, seperti dalam hadits riwayat Imam Ahmad, "Seorang hamba bisa terhalang rezekinya karena dosa yang menimpanya."
3.      Perasaan alienasi pada diri si pendosa yang tiada tandingannya dan tiada terasa kelezatan.
4.      Kegelapan yang dialami oleh tukang maksiat di dalam hatinya seperti perasaan di kegelapan malam.
5.      Terhalangnya ketaatan.
6.      Maksiat memperpendek umur dan menghapus keberkahannya.
7.      Maksiat akan melahirkan maksiat lain lagi, demikian kata ulama salaf: Hukum kejahatan adalah kejahatan lagi sebagaimana kebaikan akan melahirkan kebaikan lagi.
8.      Orang yang melakukan dosa akan terus berjalan ke dalam dosanya sampai dia merasa dirinya hina. Itu pertanda-tanda kehancuran.
9.      Kemaksiatan menyebabkan kehinaan. Dan kebaikan melahirkan kebanggaan dan kejayaan.
10.  Maksiat merusak akal, sedang kebaikan membangun akal.


















BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Akhlak tercela adalah semua sikap dan perbuatan yang dilarang oleh Allah, karena akan mendatangkan kerugian baik bagi pelakunya ataupun orang lain. Akhlak, memiliki sebab-sebab yang dapat menjadikannya tinggi dan mulia, dan sebaliknya juga mempunyai sebab-sebab yang dapat menjadikannya merosot dan jatuh ke dalam keterpurukan.
Akhlaq tercela dapat menciptakan perilaku tercela. Perilaku tercela dapat di golongkan menjadi dua macam, yaitu perilaku yang berdampak buruk bagi dirinya sendiri dan perilaku tercela yang berdampak buruk bagi orang lain. Begitu banyaknya macam-macam akhlak tercela yang terdapat dalam hati manusia. Beberapa akhlak tercela, yaitu ujub (berbangga diri), takabur (sombong), putus asa, dusta dan iri/dengki (hasad).
B. Saran
 Al-Qur’an menunjukkan cara melawan hawa nafsu dan setan dengan cara yang sangat mudah yaitu dengan memohon perlindungan dan berpaling dari orang bodoh, dan menolak perlakuan jahat mereka dengan berbuat baik.
 Bersyukurlah atas karunia yang telah Allah berikan, maka insyaallah, hati kita akan selamat dari akhlak tercela.






DAFTAR PUSTAKA
Al-qur’an dan Terjemahannya
Drs.H.Thoyib Sah Saputra,M.Pd,Drs.H.Wahyudin,M.Pd,PAI Akidah Akhlak kurikulum 2008.kelas X Madrasah Aliyah. Semarang: CV Toha Putra

9 komentar:

Anonim mengatakan...

tulisannya terlalu full colour. mataQ jadi silau. . .

Niken Kusumawardani mengatakan...

oke , sipp ... udah di ganti gan , kemaren2 lupa gnti , gra2 langsung copas dri data makalah ak ^^

Anonim mengatakan...

ukuran font'y terlalu kecil.

vita firantika mengatakan...

blog.nyaaa asyiikkk!!!!! like.like.like ^_^

vita firantika mengatakan...

mbak...judul lagunya apa ya kalau boleh tau????

Niken Kusumawardani mengatakan...

Vita : Lagunya Miley Cyrus - The climb, makasih ya udah berkunjung ^.^

syafiq ahm mengatakan...

Makalahnya singkat dan detail.
alangkah bagusnya di tambah tulisan Arab Ayat Al-Qur'an dan Hadist-hadist yang Shahih.
sehingga pembaca lebih memahami kandungannya.

Anonim mengatakan...

Wah, Subhanallah bagus sekali makalahnya. Betul sekali alangkah bagus lagi bila ditambah Al-Qur'an atau Hadits.
Izin Copas ya kak :) buat contoh bagaimana buat makalah bagus kaya kaka..

pustaka wutsqo mengatakan...

Thank you mb Niken :) lam's kenal, Good your mkalah..

Poskan Komentar

terima kasih sudah meninggalkan komentar di artikel ini ...
salam blogger ^^