Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Mei 2014

Sepucuk Surat dari Tahun Terakhir di Masa Putih Abu-abu


Selamat datang di tahun terakhir perjalanan masa putih abu-abu. Telah 12 tahun kita habiskan untuk meniti jalan menuju masa depan. Terlalu banyak kenangan yang telah dilalui, mulai dari putih merah, berlanjut ke putih biru, hingga sekarang kan melepas putih abu-abu.
            Surat ini ditulis bersamaan dengan turunnya butiran-butiran air dari langit yang menemani gelapnya malam. Bertepatan dengan hari ketiga sebelum perpisahan.
            Malam ini kubuka kembali slide-slide di tugas akhir pelajaran TIK kemarin. Malam ini juga aku bernostalgia dengan moment-moment yang terabadikan dalam ribuan foto masa lalu. Malam ini juga kusadari, waktu kita bersama sudah tak lama lagi.
            Malam ini aku teringat pada dua kata sederhana yang terangkai dalam bentuk kalimat yang sering diucapkan oleh setiap orang yang pernah mengalaminya, yakni “Putih Abu-abu”. Sesekali kutersenyum mengingat itu semua, seakan tak ada kata yang membuatku percaya bahwa aku telah menjalaninya selama tiga tahun. Melanglang di kabut putih demi menjadikan diriku mengetahui banyak hal, mengetahui jati diriku, mengetahui hidupku, mengetahui langkahku, mengetahui perjalananku, mengetahui dirimu, dirinya, dan tentunya mengetahui tentang kita semua.
            Kisah ini seperti kisah  merpati-merpati liar. Ketika merpati-merpati itu berada dalam sangkar, ia akan selalu menurut pada majikannya. Ketika ia lepas dari sangkar, ia akan terbang tinggi sesuka hatinya. Seperti itulah kita dimasa putih abu-abu. Ketika di dalam kelas bersama guru, kita duduk tenang menyimak pelajaran, walaupun sesekali kita malah asyik berceloteh dengan teman sebangku. Tetapi, layaknya merpati yang lepas dari sangkar, saat pelajaran berakhir kita berkeliaran sesuka hati.
            Kisah ini berawal dari tahun ketiga masa putih abu-abu. Ditahun ketiga ini, tak ada lagi pembagiaan kelas secara acak. Ditahun ketiga ini, kita merasakan indahnya pertemanan bersama kurang lebih 30 teman sekelas selama 2 tahun. Ditahun ketiga masa putih abu-abu, kita disuguhkan pada materi yang lebih tinggi lagi, kita disuguhkan pada persiapan untuk menghadapi berbagai macam peperangan, dan juga disuguhkan pada pembekalan bagi diri kita seusai melepas baju kehormatan kita. Seragam putih abu-abu.
            Pembekalan diri ditahun terakhir masa putih abu-abu ini seperti biasa, diawali dengan pengajian setiap hari Selasa-Sabtu. Diselingi pembacaan burdah atau kitab kifayatul mubtadiin pada hari Jum’at. Tak lupa berbagai macam nasihat diberikan oleh pencipta insan-insan cendikia itu setiap hari kepada kita. Nasihat-nasihat itu datang tak kenal waktu, baik pagi, saat dikantin, saat diruang guru, saat dikelas, bahkan saat terik matahari menemani hari-hari kita disekolah. Pembekalan waktu itu juga berupa teriakan-teriakan melalui microphone untuk menyuruh kita shalat dzuhur berjamaah, baik dimushalla sekolah, aula sekolah, ataupun masjid agung didekat sekolah kita. Pembekalan itu juga berupa latihan praktek mengafani jenazah yang dilakukan pada semester pertama di tahun ketiga masa putih abu-abu. Dengan semua pembekalan ini, mereka, para pencipta insan cendikia itu sangat mengharapkan kita menjadi orang yang berguna di masyarakat.
 Tingkat kesulitan pada materi pelajaran diawal tahun ketiga masa ini lebih rumit. Berbagai macam pr telah diberikan, tugas kelompok, ulangan harian, diskusi, presentasi, dan berujung pada ulangan semester I . Setelah semester 5 berakhir, kita dihadapkan lagi pada persiapan menuju peperangan terakhir. Dimulai pada awal Februari, kita bersama-sama menegakkan semangat yang mulai runtuh, meneguhkan hati sekuat ribuan baja, mengasah otak yang lebih dari biasanya, serta berdoa lebih banyak daripada biasanya. Selama hampir 3 bulan kita seperti itu, mempersiapkan berbagai daya upaya untuk maju di medan perang. Berperang melawan setumpuk tulisan diatas lembaran-lembaran kertas putih penentu kelulusan.
Dimulai dari mengikuti pelajaran tambahan seusai pulang sekolah, ditambah setumpuk pr dan hafalan-hafalan surah serta hadits. Dibarengi dengan usaha spiritual melalui jalan shalat hajat bersama setiap hari Kamis, serta dibarengi dengan doa yang senantiasa dipanjatkan setiap saat oleh aku, kamu, kita, orang tua kita, keluarga kita, dan juga mereka, para pencipta insan cendikia yang setiap hari tanpa kenal lelah membimbing kita mengajarkan setiap hal baru untuk kita ketahui.  
Peperangan itu dimulai pada akhir bulan Februari, saat kita melaksanakan Ujian Praktek. Mulai dari ujian praktek fisika, kimia, biologi, penelitian sosial, tik, penjaskes ,bahasa indonesia dan lain-lainnya.  Kemudian, hanya berselang sekitar seminggu, tepatnya tanggal 10-12 Maret 2014, kita dihadapkan pada UAMBN, ya, Ujian Akhir Madrasah Berstandar Nasional. Salah satu penentu kelulusan bagi anak-anak sekolah agama. Bagi anak-anak IPA dan IPS, UAMBN dimulai dari Al-qur’an Hadits dan Akidah Akhlak pada hari pertama, disusul Fikih dan SKI pada hari kedua, dan diakhiri dengan bahasa wajib sekolah madrasah. Ya, dia adalah Bahasa Arab. Sedangkan bagi anak-anak PAI, UAMBN dimulai dengan Ilmu Kalam dan Akhlak pada hari pertama, disusul dengan SKI pada hari kedua, dan diakhiri dengan Bahasa Arab. Dan lagi, hanya berselang beberapa hari, kita kembali dihadapkan pada UAS.
UAS telah selesai, tapi rupanya satu peperangan lagi masih menunggu dibulan selanjutnya. Ya, Ujian Nasional tinggal menghitung hari. Sebuah agenda tahunan Kemendikbud untuk mengukur tingkat pendidikan di Indonesia. Selama sebulan waktu yang tersisa ini kita melakukan segala upaya, mulai dari pendalaman materi, lebih banyak belajar ketika waktu luang, sampai memanjatkan doa yang lebih banyak dari sebelumnya. Aku ingat suasana kelas yang dilihat dari luar sangat sepi karena masyarakat kelasnya sibuk bertapa di dalam kelas. Mulai dari membaca buku, mengerjakan soal-soal, berdiskusi dengan teman, sampai berceloteh ria untuk menghilangkan stress.
Sebulan kemudian, kita benar-benar telah melewati semua peperangan itu. Bahkan kita benar-benar telah melewati soal-soal Ujian Nasional itu, soal-soal yang menggunakan metode TIMSS (Trends in Internasional Mathematics and Science Study) dan PISA (Programme for International Student Assesment). Semua mengalir ringan begitu saja. Menuruni tebing tinggi dan sampai di sisi yang berlainan. Sekarang semua telah berbeda. Kita tak lagi masuk sekolah rutin setiap hari. Kita tak lagi saling bertemu setiap hari. Kini kita mulai membuat pilihan untuk melanjutkan perjalanan ini.
Aku dan kamu, kita adalah bagian dari sebuah cerita indah di masa putih abu-abu. Kita telah lalui 1008 hari yang terangkum dalam 144 minggu, yang kemudian terangkum lagi dalam 36 bulan, dan dikumpulkan dalam waktu 3 tahun. Bersama-sama kita melukis pelangi dalam sebuah kertas putih bersih. Perbedaan yang melebur dalam kebersamaan itu mewarnai masa putih abu-abu ini. Diiringi dengan tangis, tawa, suka, dan duka sebagai musik latar.
Putih abu-abu punya cerita tentang cinta, tawa, & segalanya. Putih abu-abu bukan judul lagu, tapi saksi bisu anak remaja yang baru kenal dunia. Putih abu-abu adalah lambang segala rasa bersama, selama 3 tahun yang berkesan.
Putih Abu-abu... Masuk serempak, keluar serentak. Hanya tangis bahagia yang ingin aku liat dari sepasang indera penglihatan mu kawan. Menyadari betapa besar perjuangan kita, betapa besar harapan yang kita cita-citakan, betapa tulus pertemanan kita, betapa indah hari-hari yang telah kita lalui, serta betapa hangatnya sebuah persahabatan. Kita akan mempunyai jalan masing-masing, menggapai angan, meraih asa, mewujudkan segala mimpi,dan mencetak sukses. Entah kapan disuatu hari nanti kita akan kembali memflasback sejuata awkward moment di sekolah. Masa ini tak akan terulang lagi, jadi ingatlah sebagai kenangan. Beri tanda ceklist biru untuk masa ini. Masa dimana kita belajar, berkarya dan bermain bersama sahabat, semuanya terasa indah dan layak dijadikan cerita yang tiada tara maknanya.
Masa-masa terakhir di putih abu-abu, kita semua seperti menyibak awan putih, kita berusaha mewujudkan lukisan impian yang telah dilukiskan dalam sebuah kanvas raksasa di angkasa. Seraya mengukir sebuah tekad yang kuat dalam jiwa kita. Sambil mengikrarkan “Suatu hari nanti, lihatlah aku dengan segala kesuksesanku”.
Kini merpati-merpati liar itu akan dilepaskan lagi dari sangkarnya. Dilepaskan untuk mengarungi samudra angkasa yang luas. Ada sesuatu yang harus ia lakukan diantara kebebasan yang telah ada dalam genggamannya. Ya, mengunjungi dunia luar dengan medan yang lebih sulit. Merpati-merpati itu nantinya ada yang lebih memilih mendarat ditanah dan diam menatap langit atau bahkan terbang tinggi, dan semakin jauh melanglang buana. Ada banyak pilihan, merpati mana yang akan kami ikuti ? Apakah kami akan terbang jauh, terbang tinggi, berdiri pada ranting, menari-nari diudara atau hanya diam menatap langit ? Sebuah dunia berbeda akan kami kunjungi. Semua hanya menunggu waktu.
Tak dapat terhitung lagi berapa banyak jam yg kita habiskan disekolah. Sepertiga hari kita dihabiskan disekolah tentunya. Itu melatarbelakangi bahwa sekolah dapat ambil bagian membentuk pribadi seseorang. Disaat kamu menjadì lebih baik hingga semakin baik walau melalui proses. Maka, berterimakasihlah pada semua penghuni sekolah. Terutama mereka, para pencipta insan cendikia dan sahabat karib kita.
Mereka, guru-guru kita adalah sang pencipta insan cendikia. Ayunan langkah mereka hentakan tiap hari. Keringat dingin tercucur deras di atas letih tubuhnya. Namun mereka tidak pernah lelah dengan semua itu. Mereka ingin kita sukses di masa depan nanti. Dengan ilmunya kita akan hidup lebih baik di masa depan. Tiada mereka bedakan siapa diri kita ini, apakah orang lemah, kuat, miskin atau kaya. Mereka kerahkan seluruh tenaga dan pikirannya demi kebaikan kita. Demi masa depan kita, agar kita benar-benar menjadi orang yang berguna, bagi umat manusia, bangsa, dan negara.
Seuntai kata aku ucapkan sebagai perwakilan teman-teman yang lain teruntuk engkau pahlawan umat, pembimbing tiap manusia dan penerang kehidupan. Terima kasih atas ilmu yang sudah engkau berikan wahai guruku. Meski nanti jarak memisahkan kita, dan aku mungkin saja melupakan pelajaran-pelajaran yang pernah kau ajarkan. Tapi aku tak akan pernah lupa dengan semua jasa yang pernah kau berikan. Sekali lagi, terima kasih guruku.
Mereka, sahabat karib dan teman-teman kita, mereka adalah orang-orang yang akan selalu terkenang. Yang akan selalu terbayang dalam setiap langkah baru yang akan kita lakukan diluar sana. Mereka telah menorehkan ribuan warna-warni dalam perjalanan masa putih abu-abu ini. Kepada sahabat yang telah menemani dengan setia dalam lika liku perjalanan masa putih abu-abu ini, mari kita sama-sama mengucapkan terima kasih kepada mereka.
Putih Abu-abu punya banyak cerita. Putih abu-abu adalah sebuah kisah indah yang berakhir dalam perpisahan. Hari ini, waktunya kita menutup lembaran kisah klasik masa ini. Sedih memang, saat semua ini harus menjadi sebuah kenangan. Kelak, kita akan merindukan masa-masa ini. Biarkan mereka, meja, kursi, gedung sekolah, kantin sekolah, serta setiap sudut dari bangunan sekolah ini menjadi saksi bisu perjalanan masa putih abu-abu kita.

Kuala Kapuas, 14 Mei 2014, 11.50 P.M
Salam hangat,

Dari Generasi ke-19, angkatan tahun 2011/2012

Senin, 09 September 2013

Hujan

Hujan itu mengingatkanku pada satu hal, tentang dirimu yang jauh disana.
Hujan itu mengingatkanku pada suatu masa merah muda yang terlalu indah untuk ku kenang, dan terlalu sakit untuk ku lupakan.
Hujan itu mengingatkanku pada suatu ikatan yang sudah sangat lama tak pernah aku jalani lagi.
Hujan itu mengingatkanku pada dirimu, yang kini aku tak tahu dimana keberadaanmu,
bahkan untuk sekedar mengetahui kabarmu,
aku pun tak tahu.

Hujan itu adalah saat dimana kita berdua, bergandengan tangan bersama
Hujan itu adalah saat dimana aku memberikan sebatang coklat untukmu
Hujan itu adalah saat dimana aku merasakan indahnya masa-masa virus merah muda untuk pertama kalinya,
denganmu, ya tentu saja !
Hujan itu adalah saat dimana aku melihatmu tersenyum untuk kesekian kalinya
Hujan itu adalah saat-saat indah bersamamu yang tak akan pernah kembali padaku kini

Hujan itu indah, ia memberikan sejuta cerita indah bersamamu,
yang kini tak akan pernah ku rasakan lagi bersamamu
Hujan itu indah, ia memberikanku sebuah senyuman,
yang mampu membawaku ke langit ketujuh
Hujan itu indah, kala ku lalui semua denganmu

Hujan itu mengingatkanku pada suatu kenangan manis,
yang bahkan aku merindukannya tapi aku tak dapat merasakannya lagi, mungkin
Hujan itu membawa hatiku untuk menyalakan api kerinduan itu,
rasanya tak mungkin, itu akan terjadi lagi sekarang.
Hujan itu membawa fikiranku melayang kemasa lalu,
untuk sekedar mengingat dirimu dan cerita kita yang pernah ada, itu dulu !
Hujan itu .. .
Rintik-rintik itu . . .
Gerimis itu . . .
Semua mengingatkanku pada satu nama yang takkan pernah kembali lagi,
bahkan untuk sekedar mengetahui bagaimana kabarnya

Jumat, 19 Juli 2013

Gotta be You (Chapter 1)


Title : Gotta be You
Author : Niken Kusumawardani
Casts : All member One Direction, Nabila JKT48 as Nabila, Nick Clough (teman masa kecil Harry)
Length : Series (On Writing)
Genre : Romance
Rating : T
Disclaimer : Seluruh casts dalam ff ini sepenuhnya adalah milik mereka sendiri. Tetapi isi dan ide dalam cerita ini murni imajinasi author.

Chapter 1 : The First Meet
#Nabila’s PoV
            ‘’Akhirnya sampai juga di sini. Welcome to London.” Ucapku dalam hati.
            Aku yang tiba-tiba merasa kehausan langsung melangkahkan kakiku ke arah kantin di bandara.
BRUKKK !!!
            Aku tertabrak seseorang. Dan yang parahnya orang itu atau yang tepatnya cowok itu tidak terjatuh. Tetapi aku yang terjatuh. Laki-laki itu kemudian mengulurkan tangannya. Aku menyambutnya dan kemudian melihat wajahnya. Wajahnya putih dan dia memakai kacamata hitam dan kumis tebal. Tingginya kurang lebih 175 cm.
            “Sorry.” Ucapnya pelan.
            “No problem.” Sahutku sambil tersenyum.
            “Are you ok ?.” Tanya cowok itu lagi.
            “Yes, umm sorry I have to go now.” Ucapku sambil berlalu dari hadapan cowok itu.
            Aku segera melangkahkan kakiku ke kantin. Aku sangat haus. Tetapi rupanya cowok itu mengikutiku sambil membawa sesuatu ditangannya.
            “Is yours?.” Katanya sambil menunjukkan sebuah gelang.
            “Yes, this is mine, umm where did you get it ?” Sahutku pelan.
            “You dropped it earlier.” Ucapnya sambil tersenyum. Tiba-tiba saja aku ingat senyum ini sangat familiar dimataku. Dan aku berusaha mengingat siapa dia.
            “Thanks. . .umm, you Zayn Malik ?” Ucapku pelan penuh keragu-raguan
            “Yes, i am.” Ucapnya sambil melepas kacamata hitam dan kumis palsunya.
            “Your name ?”
            “I’m Nabila, Directioner from Indonesia. ” Sahutku pelan.
            I do’nt think I'd see you as beautiful fans here.”
            “Why you use that ?” Ucapku sambil menunjuk pada kumis yang berada ditangannya.
            “I wan’t to see a girl scream in front of me at this place.” Sahutnya ringan.
            “Okay, i have to go now, see ya “ Ucapnya sambil tersenyum.
            Aku hanya diam membeku. Aku tidak menyangka aku bertemu dengan idolaku disini, dibandara ini. Entah kenapa aku tadi tidak berteriak histeris seperti directioner lainnya. Mungkin aku tadi terkesan cuek dengan idolaku sendiri. Ahh . . . betapa bodohnya aku.
            Mungkin tadi hanya keberuntunganku. Tapi aku tetap berharap akan bertemu dia kembali dilain waktu. Aku tidak akan menyia-nyiakan pertemua kedua itu. Pasti.
            Oh ya, namaku Nabila Tryne. Umurku 17 tahun.Mungkin namaku agak aneh ya ? Aku campuran Indonesia-Belanda. Kakek dari pihak ibuku berasal dari Belanda. Tetapi ayahku murni orang Indonesia. Warna kulitku tidak seputih warna kulit orang Belanda. Rambutku pun tidak sehitam orang Indonesia. Dan aku bisa dibilang pendek untuk kalangan orang Eropa untuk seusiaku. Hanya 157 cm !
            Aku kesini untuk menikmati liburan kenaikan kelas. Aku ke London sendirian karena mamah dan papah sibuk dengan pekerjaannya. Di London aku akan tinggal di rumah sepupuku Nick. Seorang mahasiswa jurusan informatika.
#Zayn’s PoV
            Sepulang dari tour album Take Me Home, kami memutuskan untuk pulang sendiri-sendiri. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan keluargaku. Menjadi seorang boyband yang sedang naik daun memang mengharuskanku berpisah beberapa hari bahkan beberapa minggu dengan keluargaku. Tetapi inilah pekerjaanku, dan aku menikmatinya.
            Aku terlalu terburu-buru hingga tanpa sengaja aku menabrak seorang gadis. Kalau dilihat-lihat sepertinya dia adalah gadis timur. Lumayan mungil sih orangnya. Mungki tingginya cuma 157 cm. Tapi senyumnya itu manis sekali. Ia cantik secara natural. Tidak seperti gadis-gadis barat yang umumnya suka menggunakan make up tebal. Dan yang perlu dicatat baik-baik dia seorang directioner yang cuek. Aku masih tak menyangka ada directioner yang tidak bersikap histeris saat bertemu denganku. Dan itu membuatku penasaran dengan dirinya. Aku ingin berbicara banyak dengannya. Tapi aku harus segera pergi. The boys sudah berjanji akan mengunjungi teman kami, sekaligus sahabat kecilnya Harry, Nick di Holmes Chapel. Aku membalikkan badan dan segera memasang topi jaket, kaca mata hitam, dan kumis palsu. Aku tak ingin gadis-gadis itu –Read : Directioner- berteriak histeris di bandara. Kemudian aku segera melangkah pergi meninggalkan gadis timur itu. Tapi sebelum aku menghilang dibalik tikungan ruangan di bandara aku menoleh kebelakangku untuk melihat wajah gadis itu sekali lagi.
            Namun, tidak ada apapun disana selain pelayan kantin yang sedang sibuk menata snack dan minuman ringan di rak. Gadis cantik itu telah pergi.


Note :
Sebenarnya cerita ini adalah editan dari cerita sebelumnya Summer Love
karena ada perubahan ide cerita serta tokoh-tokoh yang ada didalamnya jadinya inilah hasilnya. Memang gak jauh-jauh amet perubahannya untuk chapter ini, tapi di chapter selanjutnya terasa banget. Terus masalah judul juga diubah karena beberapa pertimbangan. Nah kalo masalah cover dan quotesnya itu karna ada masukan dari beberapa temen, pokoknya gitu lah *.*
happy reading yaaa .  . .tunggu part selanjutnya.

Sabtu, 13 Juli 2013

Summer Love (Chapter 1)


Title : Summer Love
Author : Niken Kusumawardani
Casts : All member One Direction, Nabila JKT48 as Nabila, James
Length : Series (On Writing)
Genre : Romance
Rating : T
Disclaimer : Seluruh casts dalam ff ini sepenuhnya adalah milik mereka sendiri. Tetapi isi dan ide dalam cerita ini murni imajinasi author.

Chapter 1 : The First Meet
#Nabila’s PoV
            ‘’Akhirnya sampai juga di sini. Welcome to London.” Ucapku dalam hati.
            Aku yang tiba-tiba merasa kehausan langsung melangkahkan kakiku ke arah kantin di bandara.
BRUKKK !!!
            Aku tertabrak seseorang. Dan yang parahnya orang itu atau yang tepatnya cowok itu tidak terjatuh. Tetapi aku yang terjatuh. Laki-laki itu kemudian mengulurkan tangannya. Aku menyambutnya dan kemudian melihat wajahnya. Wajahnya putih dan dia memakai kacamata hitam. Tingginya kurang lebih 175 cm lah.
            “Sorry.” Ucapnya pelan.
            “No problem.” Sahutku sambil tersenyum.
            “Are you ok ?.” Tanya cowok itu lagi.
            “Yes, umm sorry I have to go now.” Ucapku sambil berlalu dari hadapan cowok itu.
            Aku segera melangkahkan kakiku ke kantin. Aku sangat haus. Tetapi rupanya cowok itu mengikutiku sambil membawa sesuatu ditangannya.
            “Is yours?.” Katanya sambil menunjukkan sebuah gelang.
            “Yes, this is mine, umm where did you get it ?” Sahutku pelan.
            “You dropped it earlier.” Ucapnya sambil tersenyum. Tiba-tiba saja aku ingat senyum ini sangat familiar dimataku. Dan aku berusaha mengingat siapa dia.
            “Thanks. . .umm, you Zayn Malik ?” Ucapku pelan penuh keragu-raguan
            “Yes, i am.” Ucapnya sambil membuka kaca matanya.
            “Your name ?”
            “I’m Nabila, Directioner from Indonesia.” Sahutku pelan.
            I do’nt think I'd see you as beautiful fans here.”
            “Okay, i have to go now, see ya “ Ucapnya sambil tersenyum.
            Aku hanya diam membeku. Aku tidak menyangka aku bertemu dengan idolaku disini, dibandara ini. Entah kenapa aku tadi tidak berteriak histeris seperti directioner lainnya. Mungkin aku tadi terkesan cuek dengan idolaku sendiri. Ahh . . . betapa bodohnya aku.
            Mungkin tadi hanya keberuntunganku. Tapi aku tetap berharap akan bertemu dia kembali dilain waktu. Aku tidak akan menyia-nyiakan pertemua kedua itu. Pasti.
            Oh ya, namaku Nabila Tryne. Umurku 17 tahun.Mungkin namaku agak aneh ya ? Aku campuran Indonesia-Belanda. Kakek dari pihak ibuku berasal dari Belanda. Tetapi ayahku murni orang Indonesia. Warna kulitku tidak seputih warna kulit orang Belanda. Rambutku pun tidak sehitam orang Indonesia. Dan aku bisa dibilang pendek untuk kalangan orang Eropa untuk seusiaku. Hanya 157 cm !
            Aku kesini untuk menikmati liburan kenaikan kelas. Aku ke London sendirian karena mamah dan papah sibuk dengan pekerjaannya. Dan adikku sibuk bermain dengan teman-temannya. Di London aku akan tinggal di rumah sepupuku James. Seorang mahasiswa jurusan informatika.
#Zayn’s PoV
            Sepulang dari tour di Amerika, kami memutuskan untuk pulang sendiri-sendiri. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan keluargaku. Menjadi seorang boyband yang sedang naik daun memang mengharuskanku berpisah beberapa hari bahkan beberapa minggu dengan keluargaku. Tetapi inilah pekerjaanku, dan aku menikmatinya.
            Aku terlalu terburu-buru hingga tanpa sengaja aku menabrak seorang gadis. Kalau dilihat-lihat sepertinya dia adalah gadis timur. Lumayan mungil sih orangnya. Mungki tingginya cuma 157 cm. Tapi senyumnya itu manis sekali. Dan yang perlu dicatat baik-baik dia seorang directioner yang cuek. Aku masih tak menyangka ada directioner yang tidak bersikap histeris saat bertemu denganku. Dan itu membuatku penasaran dengan dirinya. Aku ingin berbicara banyak dengannya. Tapi aku harus segera pergi. The boys sudah berjanji akan mengunjungi sahabat kecilnya Harry, James. Aku berharap akan bertemu dengannya sekali lagi.

Sabtu, 26 Januari 2013

Putih Abu-Abu 6 (Maya yang Menanti Nyata).



Kita tak pernah bertemu. Kita hanya berada dalam imaginasi kita. Membayangkan wajahmu ketika nanti kita bertemu. Selalu begitu. Kita cuma bayangan maya. Tepatnya, kamu cuma cowok maya untukku saat ini.
Kita saling mengenal setahun yang lalu. Hanya lewat sebuah pesan singkat. Aku masih mengingatnya, aku meminta nomer hp mu dengan salah satu teman LCC 4 pilar dari sekolah SMA 1. Awalnya hanya untuk mencari banyak teman lewat tukaran nomer hp. Aku masih mengingatnya, pertama kali aku mengirim sms padamu. Dalam fikiranku hanya satu, kamu cowok yang cuek. Kamu tetap cuek hingga beberapa waktu kemudian kamu berubah.
Aku tak ingat kapan kamu mulai bersikap baik padaku. Itu salah satu kesalahan yang tak bisa aku lupakan. Lama kelamaan kita semakin akrab. Saling mengenal satu sama lain. Saling jujur dan terbuka. Saling membantu. Aku masih ingat, aku selalu meminta bantuanmu saat aku berada dikelas X untuk mengerjakan tugas kimia.
Awal tahun ajaran baru 2012/2013, aku kembali meminta bantuanmu untuk mengajariku tentang kimia. Kamu menjelaskan dengan sabar. Aku faham. Plus 1 untukmu.
Tak pernah ku temukan orang sesabar kamu. Bisa menghadapiku sejauh ini. Padahal aku tak pernah tahan smsan dengan orang sampai setahun seperti ini. Sikapmu yang sabar, membuatku kagum. Kamu selalu mengajariku tentang kesabaran, tentang pentingnya kejujuran. Plus 2 untuk kesabaranmu.
Aku tak pernah menyangka temanmu berkata padaku, bahwa kamu menyukaiku. Sikap pertamaku, cuek. Aku tak bergeming. Hanya menganggapnya sms iseng. Tapi dia terus mengirimnya berulang-ulang diwaktu yang berbeda. Aku mulai percaya. Sayangnya aku terus berkata ‘’tidak’’.
Semua sms itu berakhir ketika kamu mengatakannya langsung padaku. Awalnya aku tak percaya. Memang aku tak bisa menaruh kepercayaan kepada seseorang dengan mudah. Terlebih untuk hal ini. Aku sangat berhati-hati. Sangat.
Bunyi langkah lewati malam
Suara semakin sunyi jauh pergi
Malam yang semakin suram
Sisakan sepi di dalam hati

Kala sendiri ku selalu ingat dirimu
Termenung lamunan karena merindukanmu
Jauh disana kau dari pandanganku
Buatku tak bisa untuk menggapaimu

Rinduku seperti alunan lirih
Tanpa suaramu tidak ada arti
Terlalu lama aku bersedih
Mengisahkan kerinduan didalam hati

Entah apa yang kau rasakan disana
Apakah bisa menerima apa adanya diriku disini
Hanya mempu ku berdoa berharap untukmu saja
Semoga kau sadari akan diriku yang menantimu disini dengan ketulusan hati

Masih ingat puisi itu ? Itu kamu kirim untukku beberapa bulan yang lalu, ketika kamu tak mengetahui bagaimana perasaanku.
Aku tak mengerti virus apa yang sudah meracuni hatiku. Aku mulai menyukaimu. Seiring denganmu yang selalu mencoba masuk kedalam hatiku untuk menggantikan dia. Aku masih tak mengerti, bagaimana bisa kamu membuat celah didalamnya ? Bagaimana bisa ? Bukankah aku sudah menutupnya rapat-rapat ?
Kamu selalu mencoba membuatku menyukaimu. Tapi aku terus saja mengelak. Aku terus saja membalasnya dengan kata-kata yang terkesan cuek. Aku masih tak mau mengakuinya. Aku masih tak mau mengakui keberadaan virus itu dalam hati ini.
Hingga akhirnya suatu hari kamu bertanya ‘’Kamu ada rasa denganku gak ?’’. Aku ragu ingin menjawab ‘’iya’’. Tapi aku lelah terus menutupnya. Aku lelah terus mengelak. Aku akui kamu hebat. Bisa membuatku berpaling stelah selama setahun aku tak bisa melupakan mantanku. Plus 3 untukmu.
Kamu sudah mengetahuinya. Hingga pada tanggal 11 November 2012 (kalau tidak salah) kamu menembakku. Kamu meminta jawabannya pada tanggal 15 Novermber, tepat disaat kembaranmu aniv 1 tahun dengan pacarnya. Aku bingung, Sebentar lagi ulangan semester aku ingin fokus, tapi aku menyukaimu. Aku meminta saran dengan sahabatku. Kata mereka terima aja. Aku masih bimbang, aku masih tak mau merasakan kembali rasa sakit setahun yang lalu. Aku takut semua ini hanya dusta. Aku kembali meminta saran dengan wali kelasku, beliau berkata ‘’Fikirkan dampak positif dan negatifnya, jika banyak positifnya, lebih baik di terima’’. Aku kembali bingung, hingga akhirnya aku mengerti, cinta tak harus memiliki, tetapi harus saling menyayangi dan dijalani. Hingga akhirnya aku berkata ‘’tidak’’.
Ada perasaan menyesal sekaligus bangga. Menyesal karena aku melewatkan satu kesempatan untuk memilikimu. Bangga karena aku tahu keputusan ini memang berat, tetapi aku yakin keputusan ini pasti yang terbaik, aku harus siap menghadapi konsekuensinya nanti. Kamu akan pergi menjauhiku, mungkin. Mendekati cewek lain.
Ulangan Semester hampir tiba, aku menitipkan semua fbku kepadamu. Kamu terus berusaha memotivasiku. Aku terus bersemangat. Sayangnya kesalahanku, aku tak terlalu memberikan motivasi padamu. Aku sibuk dengan urusanku sendiri. Aku mengerti aku egois. Ini kelemahanku.
Ulangan selesai dan kita kembali smsn. Ada perasaan cemas menghantui fikiranku, akankah au berhasil ? Kamu terus mengatakan aku pasti berhasil. Tapi itu masih tak mampu mengusir rasa takut itu. Hingga aku tak percaya, semuanya, semua kerja kerasku berbuah manis. Semua dukunganmu berbuah manis. Aku bersyukur telah mengenal manusia sepertimu. Kamu membawa beberapa perubahan dalam hidupku. Plus 4 untukmu.
Aku kaget dengan sikapmu, kamu memang tak mendapatkan yang pertama. Kamu memang harus menempati posisi ketiga. Tapi seharusnya kamu mensyukurinya. Kamu tak boleh begitu. Aku tahu kamu kecewa. Salahmu, kamu terlalu berharap, jadi ketika harapanmu masih terlalu jauh untuk dicapai, kamu turun dan kesal. Selama setengah hari aku tak mengirim sms padamu. Aku ingin kamu tenang. Malamnya aku mengirim sms padamu, memberimu sedikit kata-kata. Tapi, kekesalanmu masih ada. Sekali lagi, kamu terlalu berharap tinggi. Untuk kemarahan pertamamu, minus 1.
Kita sekarang sibuk dengan urusan masing-masing. Kita mulai jarang smsn. Kita mulai menjauh. Hanya sms singkat yang kuterima dan kubalas. Sedetik kemudian, apakah rasa ini sudah pudar dari dirimu ? Aku tak tahu.
Aku tak mengerti tentang kisah ini. Selama hampis 1 tahun aku menjalaninya. Sekarang, aku mengetiknya huruf demi huruf malam ini. Malam ketika aku mulai menyadari inilah konsekuensi yang harus aku jalani. Tak mengapa jika kamu menyukai gadis lain, asal jangan melupakanku sebagai orang yang pernah dekat denganmu. Tak mengapa jika selama 1 tahun maya membatasi kita, tapi harapan agar menjadi kenyataan itu selalu ada. Aku menginginkan pertemuan maya kita menjadi sesuatu yang nyata. Suatu hari nanti.
Aku disini, mengetikkan huruf demi huruf. Berjalan menelusuri masa lalu. Menodai lembar kerja putih dengan huruf ketikan berwarna hitam. Malam ini, aku mengerti. Aku beruntung mengenalmu. Banyak yang harus aku pelajari darimu. Malam ini, aku memahami. Arti sebuah perasaan yang timbul begitu saja. Inilah sebabnya aku tak bisa menjawab pertanyaanmu kemarin malam. Jangan tanyakan itu, aku takkan bisa menjawabnya. Perasan itu muncul dengan sendirinya. Melubangi hati yang sudah ku tutup rapat-rapat. Ia bersarang didalamnya. Memberikan hiasan-hiasan pada hati yang kelabu. Memberikan kecerahan pada hati yang gelap. Memberikan kesejukan pada hati yang gersang. Kamu, sang maya yang seperti nyata.
Bukannya aku ingin menggombal. Kalimat ini terketik begitu saja. Ia mengikuti alur fikiranku. Jari-jari ini mengikuti perintah otakku. Otakku hanya menuliskan sederet kalimat pengingat masa lalu. Untuk 1 tahun yang lalu. Aku hanya ingin, suatu hari nanti ketika aku membacanya, aku akan mengingatmu, orang yang pernah memberi kebahagiaan nyata di tiap keseharianku. Dirimu semu, tapi kebahagiaan itu nyata adanya.
Aku masih menunggu hari itu. Suatu hari mendatang, kita akan bertemu di suatu tempat. Saat itu dunia maya kita akan pecah. Menjadi dunia nyata. Diriku, sang maya. Aku masih menunggu kita menjadi nyata.


Kuala Kapuas, 24-Januari-2013, at my room
20.21 WIB
Just for you.