Senin, 20 Juli 2015

Kita, berjauhan, berlawanan, jalannya pun kini berlainan. Tapi aku masih percaya kita akan bermuara ke tempat yang sama untuk pulang. Lagi pula, bukankah ini kehendak awal kita sebelum kita bersama ? Dan ketika Tuhan mengabulkan doamu sekarang, diwaktu yang kita rasa tidak tepat, aku rasa itu yang terbaik untukmu. Meski dirasa semuanya akan berjalan dengan berat, meski berkali-kalipun menyalahkan diri sendiri dan keadaan. Bukankah apa yang terbaik di hadapan kita belum tentu yang terbaik dihadapan-Nya ?
Lagipula, bukankah seharusnya yang berbeda itu saling menyatukan ?

Jika kita tak percaya takdir maka biarlah perjalanan ini menjadi bukti. Entah bukti kuat atau rapuhnya perasaan yang ada. Jika kita tak bisa menahan lagi nyanyian-nyanyian sumbang diluar sana biarlah kepercayaan ini menjadi penawarnya. Entah apa yang akan terjadi satu minggu, dua minggu, satu bulan, bahkan dua bulan mendatang. Jalani saja, sekuat hati ini bertahan. Entah bagaimana nanti tersiksanya hati dengan rindu yang tak bisa lagi terobati dalam waktu yang singkat. Ataupun bagaimana susahnya menyatukan jadwal kita yang mulai berbeda hanya untuk sekedar bertatap muka.
Apapun itu, bisakah kamu sebutkan namaku dalam tiap-tiap rapalan do’amu ? Setidaknya aku yakin dengan ini akan meringankan semuanya. Karena aku juga tak pernah lelah merapal namamu pada-Nya. Entah itu rapalan do’a yang bahkan sebenarnya tak ingin kuucapkan kemarin. Bisakah kita jadi dua insan yang saling mendekap dalam peluk-Nya, dengan do’a ?
Meski jauh, tak tersentuh ...



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

terima kasih sudah meninggalkan komentar di artikel ini ...
salam blogger ^^