Selasa, 20 Desember 2011

Just For you 11-1-11


Kurasakan hadirmu di setiap langkahku. Tak kubiarkan rasa ini selalu meracuniku. Harum tubuhmu selalu mengingatkanku akan sosokmu. Kau acuhkanku setiap pagi. Kau tak pernah pedulikanku saat aku hadir di depanmu. Dan ku yakin satu hal, kau pun tak pernah memikirkanku. Tak ada gunanya aku terus mengharap kehadiranmu dalam hidupku.
            Aku bukanlah siapa-siapa bagimu. Aku hanya perempuan biasa yang tak sengaja menyukaimu hingga hari ini. Kamu pikir aku senang, bahagia? Tidak. Justru terkadang aku menangis. Cemburu. Bukan karena kau telah memiliki pendamping atau wanita terhebat yang pernah kau temui. Tapi cemburu karena kau hanya menganggap aku teman. Memang kau tak salah, namun aku terlanjur terluka, aku terlanjur tersakiti dengan segala ketidakpedulianmu padaku. Biarlah aku sakit, daripada melihatmu tak bahagia dan bimbang akan perasaanmu. Biarlah aku yang sakit daripada kau menyakiti orang yang kau sayang dan cintai.
            Andai kau tau. Kau dengar bisikku. Nyanyian sumbang dari melodi yang bergetar nyata yang menjadi saksi saat tulisan tangan ini tak pernah berhenti menuliskan setiap kata tentangnya. Andai kau mengerti, bahwa seorang perempuan yang tidak sempurna dan hanya punya cinta untuk orang yang dia sayang. Hingga tahun berganti, ia tetap menunggu jawaban atas semua gelisah dan tanya dalam batin yang menderu. Tak pantaskah aku mendapat perhatian darimu?
             Mengingat kenangan saat kau mengantar aku hingga pintu pagar rumah. Seakan membuatku berpikir kau memang hanya ditakdirkan menjadi cameo dalam kisahku. Bukan tokoh utama apalagi tokoh idola. Kau hanya hadir sebentar lalu pergi begitu saja tanpa ucapan perpisahan.
Kau itu perlahan-lahan menghilang menghapus jejak kebersaaman kita dulu. Pergi... terbang jauh entah kemana. Tapi akan terpotret dalam bingkai kenangan yang indah, terpigura rapi dengan candaan dan tawa riang kita. Dan waktupun berbicara seolah perpisahan ini tetap termemory dalam kisahku. Kata demi kata terangkai menjadi suatu cerita dan kisah betapa ternyata beginilah namanya Cinta.
Cinta terlalu semprna untuk aku miliki. Dia terlalu angguh untuk aku dapatkan. Tapi cinta terlalu mudah untuk aku rasakan. Dia hadir begitu saja mengisi hatiku yang kosong. Perasaan yang tulus akan selalu menunggu hadirnya cinta sejati.
Terimakasih untuk kebahagiaan yang pernah kamu kasih yang membuat aku jatuh cinta denganmu. Sekuat apapun aku menyangkal, dan sesulit apapun aku akui, tapi perasaanku gini adanya.
            Potongan –potongan percakapan dalam Facebook seolah menegaskan bahwa tak ada hubungan apa-apa antara kita. Tak lebih hanya sekedar teman kelas, teman satu kelompok. Cukup. Hanya itu. Tidak lebih. Jujur aku katakan saat terindah dalam hidupku adalah saat aku mulai menyukaimu.
            Tanpa ku duga hari itu, kau ketahui semua. Semua seakan sudah jelas olehmu. Kau tau semua perasaanku. Kau tau semua rasa yang menyesakkan ini. Dan kau berkata “maaf aku telah banyak menyakitimu, semoga suatu saat nanti kau menemukan seseorang yang lebih baik dari aku.” Hingga tetes air mata membasahai pipiku. Beban yang aku pendam selama dua tahun seakan mencair mengiringi permintaan maafnya.
            Aku tidak pernah menyesal mengenalmu. Meski kata tak terucap, cinta tak harus diucapkan lewat kata, tapi hati yang bicara. Andai kau tak pernah tau perasaanku, mungkin aku akan menyesal, tapi pada akhirnya kau pun tau. Tanpa ada kata yang terucap.
            Akankah kisahku akan berakhir seperti ini? Akankah takdir tak lagi mempertemukan kita meski dengan sosok yang berbeda? Dapatkah aku menjadi sosok bukan hanya sekedar teman tapi seseorang yang selalu tulus mendengar keluh kesahmu? Seseorang yang kau harapkan ucapan selamat saat usiamu bertambah? Seseorang yang istimewa dan dapat menjadi pendampingmu hingga tua nanti? Hanya Tuhan yang tau.
            Akhirnya aku paham jika kau memang bukan yang terbaik untukku. Tapi aku yakin dan percaya satu saat nanti datang seseorang yang benar-benar tulus mencintaiku, menerima aku apa adanya.
            Endingnya, terimakasih kau telah memberi kesan indah dalam mozaik puzzel kehidupanku.Kamu masih belum bisa tergantikan di hatiku...


!!-!-!! ( 11 January 2011 )




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

terima kasih sudah meninggalkan komentar di artikel ini ...
salam blogger ^^