Tampilkan postingan dengan label Masa Putih Abu-abu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masa Putih Abu-abu. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Mei 2014

Sepucuk Surat dari Tahun Terakhir di Masa Putih Abu-abu


Selamat datang di tahun terakhir perjalanan masa putih abu-abu. Telah 12 tahun kita habiskan untuk meniti jalan menuju masa depan. Terlalu banyak kenangan yang telah dilalui, mulai dari putih merah, berlanjut ke putih biru, hingga sekarang kan melepas putih abu-abu.
            Surat ini ditulis bersamaan dengan turunnya butiran-butiran air dari langit yang menemani gelapnya malam. Bertepatan dengan hari ketiga sebelum perpisahan.
            Malam ini kubuka kembali slide-slide di tugas akhir pelajaran TIK kemarin. Malam ini juga aku bernostalgia dengan moment-moment yang terabadikan dalam ribuan foto masa lalu. Malam ini juga kusadari, waktu kita bersama sudah tak lama lagi.
            Malam ini aku teringat pada dua kata sederhana yang terangkai dalam bentuk kalimat yang sering diucapkan oleh setiap orang yang pernah mengalaminya, yakni “Putih Abu-abu”. Sesekali kutersenyum mengingat itu semua, seakan tak ada kata yang membuatku percaya bahwa aku telah menjalaninya selama tiga tahun. Melanglang di kabut putih demi menjadikan diriku mengetahui banyak hal, mengetahui jati diriku, mengetahui hidupku, mengetahui langkahku, mengetahui perjalananku, mengetahui dirimu, dirinya, dan tentunya mengetahui tentang kita semua.
            Kisah ini seperti kisah  merpati-merpati liar. Ketika merpati-merpati itu berada dalam sangkar, ia akan selalu menurut pada majikannya. Ketika ia lepas dari sangkar, ia akan terbang tinggi sesuka hatinya. Seperti itulah kita dimasa putih abu-abu. Ketika di dalam kelas bersama guru, kita duduk tenang menyimak pelajaran, walaupun sesekali kita malah asyik berceloteh dengan teman sebangku. Tetapi, layaknya merpati yang lepas dari sangkar, saat pelajaran berakhir kita berkeliaran sesuka hati.
            Kisah ini berawal dari tahun ketiga masa putih abu-abu. Ditahun ketiga ini, tak ada lagi pembagiaan kelas secara acak. Ditahun ketiga ini, kita merasakan indahnya pertemanan bersama kurang lebih 30 teman sekelas selama 2 tahun. Ditahun ketiga masa putih abu-abu, kita disuguhkan pada materi yang lebih tinggi lagi, kita disuguhkan pada persiapan untuk menghadapi berbagai macam peperangan, dan juga disuguhkan pada pembekalan bagi diri kita seusai melepas baju kehormatan kita. Seragam putih abu-abu.
            Pembekalan diri ditahun terakhir masa putih abu-abu ini seperti biasa, diawali dengan pengajian setiap hari Selasa-Sabtu. Diselingi pembacaan burdah atau kitab kifayatul mubtadiin pada hari Jum’at. Tak lupa berbagai macam nasihat diberikan oleh pencipta insan-insan cendikia itu setiap hari kepada kita. Nasihat-nasihat itu datang tak kenal waktu, baik pagi, saat dikantin, saat diruang guru, saat dikelas, bahkan saat terik matahari menemani hari-hari kita disekolah. Pembekalan waktu itu juga berupa teriakan-teriakan melalui microphone untuk menyuruh kita shalat dzuhur berjamaah, baik dimushalla sekolah, aula sekolah, ataupun masjid agung didekat sekolah kita. Pembekalan itu juga berupa latihan praktek mengafani jenazah yang dilakukan pada semester pertama di tahun ketiga masa putih abu-abu. Dengan semua pembekalan ini, mereka, para pencipta insan cendikia itu sangat mengharapkan kita menjadi orang yang berguna di masyarakat.
 Tingkat kesulitan pada materi pelajaran diawal tahun ketiga masa ini lebih rumit. Berbagai macam pr telah diberikan, tugas kelompok, ulangan harian, diskusi, presentasi, dan berujung pada ulangan semester I . Setelah semester 5 berakhir, kita dihadapkan lagi pada persiapan menuju peperangan terakhir. Dimulai pada awal Februari, kita bersama-sama menegakkan semangat yang mulai runtuh, meneguhkan hati sekuat ribuan baja, mengasah otak yang lebih dari biasanya, serta berdoa lebih banyak daripada biasanya. Selama hampir 3 bulan kita seperti itu, mempersiapkan berbagai daya upaya untuk maju di medan perang. Berperang melawan setumpuk tulisan diatas lembaran-lembaran kertas putih penentu kelulusan.
Dimulai dari mengikuti pelajaran tambahan seusai pulang sekolah, ditambah setumpuk pr dan hafalan-hafalan surah serta hadits. Dibarengi dengan usaha spiritual melalui jalan shalat hajat bersama setiap hari Kamis, serta dibarengi dengan doa yang senantiasa dipanjatkan setiap saat oleh aku, kamu, kita, orang tua kita, keluarga kita, dan juga mereka, para pencipta insan cendikia yang setiap hari tanpa kenal lelah membimbing kita mengajarkan setiap hal baru untuk kita ketahui.  
Peperangan itu dimulai pada akhir bulan Februari, saat kita melaksanakan Ujian Praktek. Mulai dari ujian praktek fisika, kimia, biologi, penelitian sosial, tik, penjaskes ,bahasa indonesia dan lain-lainnya.  Kemudian, hanya berselang sekitar seminggu, tepatnya tanggal 10-12 Maret 2014, kita dihadapkan pada UAMBN, ya, Ujian Akhir Madrasah Berstandar Nasional. Salah satu penentu kelulusan bagi anak-anak sekolah agama. Bagi anak-anak IPA dan IPS, UAMBN dimulai dari Al-qur’an Hadits dan Akidah Akhlak pada hari pertama, disusul Fikih dan SKI pada hari kedua, dan diakhiri dengan bahasa wajib sekolah madrasah. Ya, dia adalah Bahasa Arab. Sedangkan bagi anak-anak PAI, UAMBN dimulai dengan Ilmu Kalam dan Akhlak pada hari pertama, disusul dengan SKI pada hari kedua, dan diakhiri dengan Bahasa Arab. Dan lagi, hanya berselang beberapa hari, kita kembali dihadapkan pada UAS.
UAS telah selesai, tapi rupanya satu peperangan lagi masih menunggu dibulan selanjutnya. Ya, Ujian Nasional tinggal menghitung hari. Sebuah agenda tahunan Kemendikbud untuk mengukur tingkat pendidikan di Indonesia. Selama sebulan waktu yang tersisa ini kita melakukan segala upaya, mulai dari pendalaman materi, lebih banyak belajar ketika waktu luang, sampai memanjatkan doa yang lebih banyak dari sebelumnya. Aku ingat suasana kelas yang dilihat dari luar sangat sepi karena masyarakat kelasnya sibuk bertapa di dalam kelas. Mulai dari membaca buku, mengerjakan soal-soal, berdiskusi dengan teman, sampai berceloteh ria untuk menghilangkan stress.
Sebulan kemudian, kita benar-benar telah melewati semua peperangan itu. Bahkan kita benar-benar telah melewati soal-soal Ujian Nasional itu, soal-soal yang menggunakan metode TIMSS (Trends in Internasional Mathematics and Science Study) dan PISA (Programme for International Student Assesment). Semua mengalir ringan begitu saja. Menuruni tebing tinggi dan sampai di sisi yang berlainan. Sekarang semua telah berbeda. Kita tak lagi masuk sekolah rutin setiap hari. Kita tak lagi saling bertemu setiap hari. Kini kita mulai membuat pilihan untuk melanjutkan perjalanan ini.
Aku dan kamu, kita adalah bagian dari sebuah cerita indah di masa putih abu-abu. Kita telah lalui 1008 hari yang terangkum dalam 144 minggu, yang kemudian terangkum lagi dalam 36 bulan, dan dikumpulkan dalam waktu 3 tahun. Bersama-sama kita melukis pelangi dalam sebuah kertas putih bersih. Perbedaan yang melebur dalam kebersamaan itu mewarnai masa putih abu-abu ini. Diiringi dengan tangis, tawa, suka, dan duka sebagai musik latar.
Putih abu-abu punya cerita tentang cinta, tawa, & segalanya. Putih abu-abu bukan judul lagu, tapi saksi bisu anak remaja yang baru kenal dunia. Putih abu-abu adalah lambang segala rasa bersama, selama 3 tahun yang berkesan.
Putih Abu-abu... Masuk serempak, keluar serentak. Hanya tangis bahagia yang ingin aku liat dari sepasang indera penglihatan mu kawan. Menyadari betapa besar perjuangan kita, betapa besar harapan yang kita cita-citakan, betapa tulus pertemanan kita, betapa indah hari-hari yang telah kita lalui, serta betapa hangatnya sebuah persahabatan. Kita akan mempunyai jalan masing-masing, menggapai angan, meraih asa, mewujudkan segala mimpi,dan mencetak sukses. Entah kapan disuatu hari nanti kita akan kembali memflasback sejuata awkward moment di sekolah. Masa ini tak akan terulang lagi, jadi ingatlah sebagai kenangan. Beri tanda ceklist biru untuk masa ini. Masa dimana kita belajar, berkarya dan bermain bersama sahabat, semuanya terasa indah dan layak dijadikan cerita yang tiada tara maknanya.
Masa-masa terakhir di putih abu-abu, kita semua seperti menyibak awan putih, kita berusaha mewujudkan lukisan impian yang telah dilukiskan dalam sebuah kanvas raksasa di angkasa. Seraya mengukir sebuah tekad yang kuat dalam jiwa kita. Sambil mengikrarkan “Suatu hari nanti, lihatlah aku dengan segala kesuksesanku”.
Kini merpati-merpati liar itu akan dilepaskan lagi dari sangkarnya. Dilepaskan untuk mengarungi samudra angkasa yang luas. Ada sesuatu yang harus ia lakukan diantara kebebasan yang telah ada dalam genggamannya. Ya, mengunjungi dunia luar dengan medan yang lebih sulit. Merpati-merpati itu nantinya ada yang lebih memilih mendarat ditanah dan diam menatap langit atau bahkan terbang tinggi, dan semakin jauh melanglang buana. Ada banyak pilihan, merpati mana yang akan kami ikuti ? Apakah kami akan terbang jauh, terbang tinggi, berdiri pada ranting, menari-nari diudara atau hanya diam menatap langit ? Sebuah dunia berbeda akan kami kunjungi. Semua hanya menunggu waktu.
Tak dapat terhitung lagi berapa banyak jam yg kita habiskan disekolah. Sepertiga hari kita dihabiskan disekolah tentunya. Itu melatarbelakangi bahwa sekolah dapat ambil bagian membentuk pribadi seseorang. Disaat kamu menjadì lebih baik hingga semakin baik walau melalui proses. Maka, berterimakasihlah pada semua penghuni sekolah. Terutama mereka, para pencipta insan cendikia dan sahabat karib kita.
Mereka, guru-guru kita adalah sang pencipta insan cendikia. Ayunan langkah mereka hentakan tiap hari. Keringat dingin tercucur deras di atas letih tubuhnya. Namun mereka tidak pernah lelah dengan semua itu. Mereka ingin kita sukses di masa depan nanti. Dengan ilmunya kita akan hidup lebih baik di masa depan. Tiada mereka bedakan siapa diri kita ini, apakah orang lemah, kuat, miskin atau kaya. Mereka kerahkan seluruh tenaga dan pikirannya demi kebaikan kita. Demi masa depan kita, agar kita benar-benar menjadi orang yang berguna, bagi umat manusia, bangsa, dan negara.
Seuntai kata aku ucapkan sebagai perwakilan teman-teman yang lain teruntuk engkau pahlawan umat, pembimbing tiap manusia dan penerang kehidupan. Terima kasih atas ilmu yang sudah engkau berikan wahai guruku. Meski nanti jarak memisahkan kita, dan aku mungkin saja melupakan pelajaran-pelajaran yang pernah kau ajarkan. Tapi aku tak akan pernah lupa dengan semua jasa yang pernah kau berikan. Sekali lagi, terima kasih guruku.
Mereka, sahabat karib dan teman-teman kita, mereka adalah orang-orang yang akan selalu terkenang. Yang akan selalu terbayang dalam setiap langkah baru yang akan kita lakukan diluar sana. Mereka telah menorehkan ribuan warna-warni dalam perjalanan masa putih abu-abu ini. Kepada sahabat yang telah menemani dengan setia dalam lika liku perjalanan masa putih abu-abu ini, mari kita sama-sama mengucapkan terima kasih kepada mereka.
Putih Abu-abu punya banyak cerita. Putih abu-abu adalah sebuah kisah indah yang berakhir dalam perpisahan. Hari ini, waktunya kita menutup lembaran kisah klasik masa ini. Sedih memang, saat semua ini harus menjadi sebuah kenangan. Kelak, kita akan merindukan masa-masa ini. Biarkan mereka, meja, kursi, gedung sekolah, kantin sekolah, serta setiap sudut dari bangunan sekolah ini menjadi saksi bisu perjalanan masa putih abu-abu kita.

Kuala Kapuas, 14 Mei 2014, 11.50 P.M
Salam hangat,

Dari Generasi ke-19, angkatan tahun 2011/2012

Sabtu, 26 Januari 2013

Putih Abu-Abu 6 (Maya yang Menanti Nyata).



Kita tak pernah bertemu. Kita hanya berada dalam imaginasi kita. Membayangkan wajahmu ketika nanti kita bertemu. Selalu begitu. Kita cuma bayangan maya. Tepatnya, kamu cuma cowok maya untukku saat ini.
Kita saling mengenal setahun yang lalu. Hanya lewat sebuah pesan singkat. Aku masih mengingatnya, aku meminta nomer hp mu dengan salah satu teman LCC 4 pilar dari sekolah SMA 1. Awalnya hanya untuk mencari banyak teman lewat tukaran nomer hp. Aku masih mengingatnya, pertama kali aku mengirim sms padamu. Dalam fikiranku hanya satu, kamu cowok yang cuek. Kamu tetap cuek hingga beberapa waktu kemudian kamu berubah.
Aku tak ingat kapan kamu mulai bersikap baik padaku. Itu salah satu kesalahan yang tak bisa aku lupakan. Lama kelamaan kita semakin akrab. Saling mengenal satu sama lain. Saling jujur dan terbuka. Saling membantu. Aku masih ingat, aku selalu meminta bantuanmu saat aku berada dikelas X untuk mengerjakan tugas kimia.
Awal tahun ajaran baru 2012/2013, aku kembali meminta bantuanmu untuk mengajariku tentang kimia. Kamu menjelaskan dengan sabar. Aku faham. Plus 1 untukmu.
Tak pernah ku temukan orang sesabar kamu. Bisa menghadapiku sejauh ini. Padahal aku tak pernah tahan smsan dengan orang sampai setahun seperti ini. Sikapmu yang sabar, membuatku kagum. Kamu selalu mengajariku tentang kesabaran, tentang pentingnya kejujuran. Plus 2 untuk kesabaranmu.
Aku tak pernah menyangka temanmu berkata padaku, bahwa kamu menyukaiku. Sikap pertamaku, cuek. Aku tak bergeming. Hanya menganggapnya sms iseng. Tapi dia terus mengirimnya berulang-ulang diwaktu yang berbeda. Aku mulai percaya. Sayangnya aku terus berkata ‘’tidak’’.
Semua sms itu berakhir ketika kamu mengatakannya langsung padaku. Awalnya aku tak percaya. Memang aku tak bisa menaruh kepercayaan kepada seseorang dengan mudah. Terlebih untuk hal ini. Aku sangat berhati-hati. Sangat.
Bunyi langkah lewati malam
Suara semakin sunyi jauh pergi
Malam yang semakin suram
Sisakan sepi di dalam hati

Kala sendiri ku selalu ingat dirimu
Termenung lamunan karena merindukanmu
Jauh disana kau dari pandanganku
Buatku tak bisa untuk menggapaimu

Rinduku seperti alunan lirih
Tanpa suaramu tidak ada arti
Terlalu lama aku bersedih
Mengisahkan kerinduan didalam hati

Entah apa yang kau rasakan disana
Apakah bisa menerima apa adanya diriku disini
Hanya mempu ku berdoa berharap untukmu saja
Semoga kau sadari akan diriku yang menantimu disini dengan ketulusan hati

Masih ingat puisi itu ? Itu kamu kirim untukku beberapa bulan yang lalu, ketika kamu tak mengetahui bagaimana perasaanku.
Aku tak mengerti virus apa yang sudah meracuni hatiku. Aku mulai menyukaimu. Seiring denganmu yang selalu mencoba masuk kedalam hatiku untuk menggantikan dia. Aku masih tak mengerti, bagaimana bisa kamu membuat celah didalamnya ? Bagaimana bisa ? Bukankah aku sudah menutupnya rapat-rapat ?
Kamu selalu mencoba membuatku menyukaimu. Tapi aku terus saja mengelak. Aku terus saja membalasnya dengan kata-kata yang terkesan cuek. Aku masih tak mau mengakuinya. Aku masih tak mau mengakui keberadaan virus itu dalam hati ini.
Hingga akhirnya suatu hari kamu bertanya ‘’Kamu ada rasa denganku gak ?’’. Aku ragu ingin menjawab ‘’iya’’. Tapi aku lelah terus menutupnya. Aku lelah terus mengelak. Aku akui kamu hebat. Bisa membuatku berpaling stelah selama setahun aku tak bisa melupakan mantanku. Plus 3 untukmu.
Kamu sudah mengetahuinya. Hingga pada tanggal 11 November 2012 (kalau tidak salah) kamu menembakku. Kamu meminta jawabannya pada tanggal 15 Novermber, tepat disaat kembaranmu aniv 1 tahun dengan pacarnya. Aku bingung, Sebentar lagi ulangan semester aku ingin fokus, tapi aku menyukaimu. Aku meminta saran dengan sahabatku. Kata mereka terima aja. Aku masih bimbang, aku masih tak mau merasakan kembali rasa sakit setahun yang lalu. Aku takut semua ini hanya dusta. Aku kembali meminta saran dengan wali kelasku, beliau berkata ‘’Fikirkan dampak positif dan negatifnya, jika banyak positifnya, lebih baik di terima’’. Aku kembali bingung, hingga akhirnya aku mengerti, cinta tak harus memiliki, tetapi harus saling menyayangi dan dijalani. Hingga akhirnya aku berkata ‘’tidak’’.
Ada perasaan menyesal sekaligus bangga. Menyesal karena aku melewatkan satu kesempatan untuk memilikimu. Bangga karena aku tahu keputusan ini memang berat, tetapi aku yakin keputusan ini pasti yang terbaik, aku harus siap menghadapi konsekuensinya nanti. Kamu akan pergi menjauhiku, mungkin. Mendekati cewek lain.
Ulangan Semester hampir tiba, aku menitipkan semua fbku kepadamu. Kamu terus berusaha memotivasiku. Aku terus bersemangat. Sayangnya kesalahanku, aku tak terlalu memberikan motivasi padamu. Aku sibuk dengan urusanku sendiri. Aku mengerti aku egois. Ini kelemahanku.
Ulangan selesai dan kita kembali smsn. Ada perasaan cemas menghantui fikiranku, akankah au berhasil ? Kamu terus mengatakan aku pasti berhasil. Tapi itu masih tak mampu mengusir rasa takut itu. Hingga aku tak percaya, semuanya, semua kerja kerasku berbuah manis. Semua dukunganmu berbuah manis. Aku bersyukur telah mengenal manusia sepertimu. Kamu membawa beberapa perubahan dalam hidupku. Plus 4 untukmu.
Aku kaget dengan sikapmu, kamu memang tak mendapatkan yang pertama. Kamu memang harus menempati posisi ketiga. Tapi seharusnya kamu mensyukurinya. Kamu tak boleh begitu. Aku tahu kamu kecewa. Salahmu, kamu terlalu berharap, jadi ketika harapanmu masih terlalu jauh untuk dicapai, kamu turun dan kesal. Selama setengah hari aku tak mengirim sms padamu. Aku ingin kamu tenang. Malamnya aku mengirim sms padamu, memberimu sedikit kata-kata. Tapi, kekesalanmu masih ada. Sekali lagi, kamu terlalu berharap tinggi. Untuk kemarahan pertamamu, minus 1.
Kita sekarang sibuk dengan urusan masing-masing. Kita mulai jarang smsn. Kita mulai menjauh. Hanya sms singkat yang kuterima dan kubalas. Sedetik kemudian, apakah rasa ini sudah pudar dari dirimu ? Aku tak tahu.
Aku tak mengerti tentang kisah ini. Selama hampis 1 tahun aku menjalaninya. Sekarang, aku mengetiknya huruf demi huruf malam ini. Malam ketika aku mulai menyadari inilah konsekuensi yang harus aku jalani. Tak mengapa jika kamu menyukai gadis lain, asal jangan melupakanku sebagai orang yang pernah dekat denganmu. Tak mengapa jika selama 1 tahun maya membatasi kita, tapi harapan agar menjadi kenyataan itu selalu ada. Aku menginginkan pertemuan maya kita menjadi sesuatu yang nyata. Suatu hari nanti.
Aku disini, mengetikkan huruf demi huruf. Berjalan menelusuri masa lalu. Menodai lembar kerja putih dengan huruf ketikan berwarna hitam. Malam ini, aku mengerti. Aku beruntung mengenalmu. Banyak yang harus aku pelajari darimu. Malam ini, aku memahami. Arti sebuah perasaan yang timbul begitu saja. Inilah sebabnya aku tak bisa menjawab pertanyaanmu kemarin malam. Jangan tanyakan itu, aku takkan bisa menjawabnya. Perasan itu muncul dengan sendirinya. Melubangi hati yang sudah ku tutup rapat-rapat. Ia bersarang didalamnya. Memberikan hiasan-hiasan pada hati yang kelabu. Memberikan kecerahan pada hati yang gelap. Memberikan kesejukan pada hati yang gersang. Kamu, sang maya yang seperti nyata.
Bukannya aku ingin menggombal. Kalimat ini terketik begitu saja. Ia mengikuti alur fikiranku. Jari-jari ini mengikuti perintah otakku. Otakku hanya menuliskan sederet kalimat pengingat masa lalu. Untuk 1 tahun yang lalu. Aku hanya ingin, suatu hari nanti ketika aku membacanya, aku akan mengingatmu, orang yang pernah memberi kebahagiaan nyata di tiap keseharianku. Dirimu semu, tapi kebahagiaan itu nyata adanya.
Aku masih menunggu hari itu. Suatu hari mendatang, kita akan bertemu di suatu tempat. Saat itu dunia maya kita akan pecah. Menjadi dunia nyata. Diriku, sang maya. Aku masih menunggu kita menjadi nyata.


Kuala Kapuas, 24-Januari-2013, at my room
20.21 WIB
Just for you.

Senin, 21 Januari 2013

Putih Abu-abu 5 ( Menanti Sebuah Pertemuan )


Setengah tahun berlalu sudah. Kisah antara kita telah terajut lebih dalam. Ketika semua terpisah, kita harus belajar menerima teman baru. Suasana kelas yang baru, wali kelas baru, dan watak teman-teman yang baru. Setengah tahun telah kita lalui dengan menghadapi cobaan yang ada. Setengah tahun kita lalui dengan hal-hal aneh. Setengah tahun telah berlalu, tetapi masih menyisakan ukiran kenangan dihati. Setengah tahun berdua denganmu. Penuh cerita, kebimbangan, gelisah, sedih, kecewa, dan amarah. Penuh petualangan, cinta, dan persahabatan. Tentangku yang tak pernah bisa membuka hati dan tentangmu yang selalu setia dengannya. Tentang kisah cinta kalian yang kocak. Tentang kisah cintaku yang membingungkan. Tentang nilai kita yang beda tipis. Tentang tulisan kita yang mirip tapi tak serupa. Masih ingat gak, ketika pembagian hasil ulangan matematika ? Bu Ratna datangin aku, terus beliau berkata ‘’ini tulisan kamu ya ? kok tulisan kalian bedua mirip ?’’. Masih ingat juga ketika kita nyuruh teman-teman sekelas untuk ngebedain tulisanku sama tulisanmu yang mana ? Cuma Ari Sandy aja yang bisa ... Hahaha. Masih ingat ketika kita bawa laptop ke sekolah untuk ngerjain tugas TIK ? yang ada malah foto-foto narsis Va. Haha.
Masih ku ingat saat-saat itu. Sampai sekarang ketika aku melewati depan rumahmu *koreksi, Mantan Rumahmu, aku hanya bisa bergumam ‘’Semuanya terlalu cepat untuk terjadi’’. Ahh ... aku kembali mengingat semuanya. Lagi, dan kembali bersedih. Mungkin aku tak meneteskan air mata, tapi didalam diriku terdapat kesedihan yang mendalam. Separuh dari hari-hariku pergi menjauh. Jauh. Kesuatu kota yang tak pernah ku kunjungi.
Entah kapan kita akan bertemu. Aku tak pernah bisa membayangkannya. Entah apakah senyum itu suatu hari nanti masih tercipta untukku ? Entah apakah celoteh-celoteh anehmu nanti masih terucap untukku ? Saat ini aku masih merasa sepi. Sunyi. Keseharianku masih gelap. Aku butuh sedikit cahaya terang.
Tiap pagi, masih ku ingat dirimu di perempatan jalan. Menanti seseorang gadis keluar dari gang kecil. Masih kuingat lambaian tanganmu ketika aku melewati perempatan jalan. Sekarang sudah tak ada lagi. Ketika ku lihat ke seberang perempatan jalan, hanya ada orang-orang yang tak kukenal berlalu lalang disana. Masih kucari sosok gadis bersepeda yang menanti teman berangkat sekolahnya di perempatan jalan. Namun sayang, ia tak ada lagi dalam pandanganku. Disana tak ada gadis yang ku cari. Sekali lagi, dia sudah pergi.
Mungkin bukan pergi meninggalkanku, tapi pergi untuk memberiku waktu berinteraksi lebih dalam dengan orang lain. Mungkin bukan pergi menjauhiku, tapi pergi untuk menggapai cita-cita dalam impianmu. Mungkin bukan pergi untuk melupakanku, tapi pergi untuk memberiku waktu mengenangmu lebih dalam. Kenangan itu baru terasa keindahannya sekarang. Ketika kenangan itu tak bisa terulang lagi. Ketika seseorang yang memberiku kenangan sudah pergi nun jauh disana. Aku masih berharap bisa melihatmu suatu hari lagi. Bercanda denganmu, ngoceh gak jelas, dan lain-lain.
Masih ku ingat ketika setumpuk pe er menanti untuk dikerjakan. Masih kuingat ketika sederet pe er fisika membuat kita pusing kepala. Masih kuingat tangisan kekecewaanmu ketika kamu harus ikut remedial Fisika. Masih kuingat sorakan kegembiraanmu ketika mendapatkan nilai 100 di pelajaran Aqidah Akhlak dan Fiqih. Masih kuingat ketika kamu sedih karena tak bisa nonton konser ungu. Masih ku ingat ... Masih ku ingat semuanya. Semua masih terukir dalam memoriku.
Keyboard laptopku terus ditekan satu persatu. Mengetikkan sejumlah kata-kata di selembar kertas kosong. Melihat dan mengingat jauh ke masa lalu. Berawal dari setengah tahun yang lalu, dan berakhir dalam ingatan tanggal 22 Desember 2012. Mungkin tak cukup untuk menggambarkan setengah tahun yang kita jalani bersama.
Sekarang semester 4 sudah dimulai. Pertarungan kembali dimulai. Perpisahan sudah berlalu. Aku harus memahami dirimu tak berada disamping bangku ku lagi. Aku harus terbiasa tanpamu. Aku harus terbiasa mengerjakan semuanya tanpamu. Sulit memang. Ini sudah memasuki hari keduapuluh di tahun 2013. Enam belas hari telah berlangsung dalam pembelajaran disini, tentunya tanpamu disampingku. Harus ku terima ketika aku menyadari bahwa disampingku bukanlah dirimu. Tapi orang lain, yang harus aku pelajari dan fahami tentang dirinya. Aku mengerti, semua ini adalah salah satu proses untuk menggapain angan-angan kita. Kita berpisah, tapi bukan untuk melupakan. Tapi kita berpisah untuk berjuang menggapai angan-angan kita. Suatu hari nanti, lihatlah aku berdiri dipuncak kejayaanku. Harapanku hanya satu, kita sukses dan akan bertemu suatu hari nanti. Aku ingin melihatmu ketika kita sudah mencapai bintang yang kita inginkan sekarang. Masa depan kita masih panjang. Masih banyak bintang-bintang yang dapat kita raih. Nanti, kita akan bertemu di bintang tertinggi. Puncak kejayaan kita.
Khayalanku terlalu tinggi, memang. Inilah temanmu yang aneh. Mengetikkan huruf demi huruf malam ini. Sambil berdoa kita akan bertemu kembali dalam kesuksesan kita. Suatu hari nanti.




Kuala Kapuas, 20 Januari 2013, 20.16 WIB at my room.
For my friend, Elva Norlianti

Senin, 16 Juli 2012

Putih Abu-Abu 4 ( Terpisahkan oleh sebuah kata ----) IPA !!! )


Gak kerasa udah 1 tahun kami aku lalui bersama , padahal sepertinya baru beberapa bulan aja di kelas 1 SMA , padahal rasanya baru aja di MOS , ehh ... udah kelas 2 SMA sekarang .
Putih abu-abu di kelas 2 SMA ... rasa galau itu tiba-tiba muncul . Galauuuuu bangettt , bayangkan pisah kelas sama temen-temen X-6 tercinta , aku menyebutnya X-6 itu kelas GALAU , eitsssss ... jangan salah yaaa . Disini maksud aku GALAU itu singkatan dari ---) Generation Always Learn And Unity . Cocok banget kata-kata itu buat anak-anak X-6 yang selalu belajar dan belajar . X-6 yang demokratisnya tinggi banget , ada masalah apapun di selesaikan bersama , berembuk bersama , bermusyawarah untuk mencari jalan penyelesaiannya , dengan persahabatan dan persaingan yang kental , cinta dan kasih sayang , canda tawa , semuanya . X-6 yang sangat berbekas di hati .
Rasanya semua begitu cepat berubah . Tentang aku , kamu , mereka ... iya ini semua tentang kita , tentang semua kebersamaan kita , kegilaan kita , ahh ... semua mungkin memang tidak berakhir , tapi semua mulai memudar seiring dengan perpisahan kita menjadi 3 kelas .
Ini bukan tentang apapun , ini hanya tentang persahabatan dan kebersamaan remaja putih abu-abu yang dipisahkan oleh sebuah kelas . Ini bukan tentang rasa kebencian dengan dipisahnya kelas , iya aku tahu semua ada hikmahnya ... tapi ...
Bagi aku mereka semua not only my friends or my bestfriends , but they are my life . Ada kesedihan tersendiri yang tak bisa di jelaskan seberapa besarnya sedih itu menyelimuti hati ku . Ada sesuatu yang hilang dari hidup ini ketika mengetahui kita terpisah . Gak ada lagi main poker bareng , canda bareng , jajan bareng , gila bareng , ngerjain tugas bareng ... de el el . Semua masih terasa berat .
Elsa , Icha , Vae , Kikuk , Qie , kami berenam di pisah menjadi tiga kelas , masing-masing 2 orang satu kelas . Elsa dan Kikuk di IPA1 , aku dan Vae di IPA2 , Icha dan Qie di IPA3 . Terus teman-teman yang lain , Prima si Ketua kelas X-6 , Ifan wakilnya , Isti sekretaris , hanafi bendahara ,  terus ada Dedew , Piyah , Ulfah , Misna , Ayu , Ifin , Ifit , Eba , Rusiana , Rasidah , Dedes , Norman , Fahrul ... huaaaaa anak-anak X-6 yang WAWWWW ...
Ini bukan tentang perpisahan di antara kita , tapi ini tentang kesedihan dan mungkin masih berat untuk menerimanya . Kita bukan terpisah , kita tetap bersama , tapi kita hanya di batasi waktu untuk bermain bersama dengan kelas yang berbeda-beda . Ini tentang sebuah rasa bukan sebuah kata-kata belaka . Ini tentang kita bersama , dan bukan tentang aku . Ini tentang kita semua . Ini tentang masa-masa kelas X yang sangat aku rindukan . Semua terasa sangat berbekas di hati , mungkin karena kita yang selalu bersama setiap hari , jam , menit , dan detik . Tertawa dan sedih bareng .
Terutama bareng Elsa , Icha , Vae , Kikuk , dan Qie , gak ada jajan bareng , main poker bareng , dungkung apa jungkung tuh ?? ahhh saya lupa lagiiii . miss dungkung atau jungkung tuh , haha siapa miss dungkung kitaaa nanti ?? ehhh , tempat keramat main poker di mana ? pake kutukan poker segalaa .. ahh truz kalo sudah kek gitu jadinya ketawa bareng , ntar 1 snack bagi rame-rame , main poker rame-rame ... huaaaa , kangennnn ...  kangen kebersamaan kita , kenapa semua masih terasa berat ? apa mungkin karena masih kurang bisa menerima , apa mungkin kita butuh waktu untuk menerima semua ini dan benar-benar menerimanya . Iya ... sekali lagi semua ini terpisahkan oleh satu kata .... yaitu IPA . Tapi ini adalah salah satu dari perjalanan hidup kita yang penuh warna , dan tantangan . Perjalanan hidup kita yang satu persatu akan menjadi sebuah kenangan indah di hati dan memory kita masing-masing . Aku tahu , kita hanya belum bisa benar-benar menerimanya , karena semua masih terasa begitu singkat . Yeahhh my friends ... this is about our life . Our best memory . With you and we are together everyday . 

Kamis, 12 Juli 2012

Putih Abu-abu 3 ( Nilai atau Ilmu ? ) ...


Putih Abu-abu , perlahan mulai menyadari arti pentingnya belajar dalam kehidupan sehari-hari , tak terbatas pada lingkungan sekolah , tetapi juga di luar , misalnya di masyarakat , organisasi , de el el . Masa ini perbaikan sikap dari masa putih biru tua yang sering tidak memperhatikan pelajaran , lebih banyak bermain , mementingkan pacaran , bolos , bandel , nakal , tidak hormat pada guru , dan segudang kesalahan dan kenakalan remaja biru tua .
Now , semua itu mulai berubah drastis , seiring dengan pembentukan akal dan mental remaja . Pola fikir remaja putih abu-abu sudah mulai mengarah ke masa depan , mulai melakukan climbing untuk mencapai cita-cita yang sudah mereka gantungkan jauh di atas langit ketujuh .

Senin, 02 Juli 2012

Putih Abu-Abu 2

Cerita kedua . Ini tentang perjuangan gue dan kerja keras gue . Gue baru sadar gini yah kalau kamu be the regular student . Sakit sih . Cercaan , hinaan , makian , diremehkan , diragukan . Woyyyy ... gue punya rasa juga .  Sakitttt guys , sakittt banget . Harus ngadepin cercaan , makian , diremehkan , dan diragukan selama setengah tahun SENDIRIAN . Iya , gue berusaha , gue belajar dan belajar . Gue sampe rela-relain vakum dari TaeKwonDo selama setengah tahun .

Putih abu-abu


Gak nyangka banget gue udah jadi anak kelas XI IPA . Gak nyangka banget gue udah ngelewatin masa putih abu-abu selama setahun . Oke , gue di terima di Islamic High School pada tanggal 9 Juli 2011 di kelas X-6 . Iya , X-6 . Gue gak mau cerita panjang lebar tentang X-6 itu kelas apa , unggulan atau buangan . Gue gak peduli . Banyak yang bilang X-6 itu kelas unggulan , ada juga yang bilang X-6 itu kelas buangan , it’s oke . Whatever you say about it yahh ... Faktanya kalian harus tahu kenyataan yang sebenarnya tentang X-6 MAN Selat Tengah Kuala Kapuas untuk tahun 2011/2012 . Ingat bukan untuk tahun 2012/2013 , karena sekarang semuanya sudah berbeda . 180 derajat !!!